HOME
ALKITAB
Gereja Toraja TODAY
FORUM P.A.
BERBUAH
SEKOLAH ALKITAB
INJIL dan MELAYU
God's Word in CHINA
DOWNLOAD Bible
PPGT
Download Info Gerejawi
NEXT Generation
Renungan Harian
Kumpulan TULISAN
Majalah SULO
MENU ARTIKEL
SSAXXII
3 - 8 July 2006
26 Keputusan SSAXXII
BLOG SSAXXII
FOTO2 SSAXXII
Download SSA22 Doc.
FORUM
BUKU TAMU
Kampoeng TORAJA
GEREJA TORAJA TODAY
PEKAN SPIRITUALITAS
Yahoo YM
e-mail me



Learn more at TheDailyBibleVerse.org



"KLIK DISINI UNTUK BACAAN ALKITAB ONLINE 1 TAHUN"



Google Custom Search


Google SEARCH ENGINE dalam Bahasa INDONESIA, khusus untuk Artikel GEREJAWI







KUASA ROH KUDUS di MEKO


DOA BAPA KAMI

Matius 6:
6:9 Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

6:14 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. 6:15 Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."



Allah kuasa

Allah kuasa melakukan segala perkara
Allahku Maha Kuasa
Dia ciptakan seisi dunia
Atur segala masa
Allahku Maha Kuasa

Allah kuasa melakukan segala perkara
Allahku Maha Kuasa
Dia ampuni yang berdosa
Sembuhkan yang sakit
Allahku Maha Kuasa



"SUARA PENGGEMBALAAN - FENOMENA MEKO: PERBUATAN ALLAH! "



Senin, 9 April 07, Selvin di SOLUSI SCTV

Malam ini jam 22.30 Hari Senin, 9 April 07, pkl. 24:30 akan ditayangkan kisah tentang Selvin Bungge anak usia 8 tahun di Poso yang dipakai Tuhan untuk KESEMBUHAN ILAHI di program acara SOLUSI - SCTV.

Selvin Bungge 8 thn bocah perempuan dari desa Meko, Pamona Selatan, Tentena, dipakai Tuhan luar biasa sejak 6 Jan 2007. Ribuan orang datang didoakan dalam Nama Yesus, buta dpt melihat, lumpuh dpt berjalan, berbagai penyakit disembuhkan dalam Nama TUHAN YESUS, tua / muda, rakyat biasa, pejabat2 dari berbagai agama dan berbagai kota datang, didoakan dan disembuhkan Tuhan. setelah Jumat lalu, sekitar 8 ribu orang didoakan, rencana 9 Maret nanti doa kesembuhan Ilahi di lapangan akan dilakukan lagi.

Kaca mata, tongkat , kursi roda dll kini menumpuk di rumah Selvin Bungge, ditinggalkan pemiliknya krn sdh disembuhkan Tuhan melalui siswi kelas 2 SDN desa Meko, desa yg terletak di pinggir danau Poso. Tidak semua org datang disembuhkan, justru banyak pendeta yg diusir pulang. Beberapa orang yg berusaha menjamah atau minta dijamah Selvin, tidak sembuh. Setiap orang yg datang Selvin tekankan untuk percaya akan Tuhan Yesus & Dialah yg menyembuhkan. mereka yg percaya walaupun blm didoakan langsung sembuh.

Pada org2 yg blm percaya Selvin katakan, “silahkan berdoa menurut keyakinan anda, saya akan berdoa kpd Tuhan Yesus, tetapi utk sembuh anda harus percaya bahwa Tuhan Yesus ada dan sanggup menyembuhkan anda.”

Dengan menaikan pujian “Allah Kuasa Melakukan …” tiba2 banyak org menangis, melompat kegirangan, krn sdh sembuh dan setiap mereka selalu berusaha menghafalkan lagu itu, ada seorang Opa - Hindu, berdiri sambil salto saking senangnya, krn sembuh dari buta. banyak dokter juga lepas kacamata.

Kesaksian demi kesaksian terus tersiar ke berbagai kota, nama Tuhan semakin didengar dimasyurkan . Pengambilan gambar pelayanan ini dilarang Selvin bahkan Metro TV yg sdh di lapangan tdk diizinkan mengambil gambar. Tidak seorang pun bisa mengatur / menasehati, apa yg berkecamuk di hatipun dia bisa tahu. beberapa Pendeta yg datang bahkan langsung ditemplak, disuruh pulang dan bertobat. Pendeta2 yg lain akhirnya gak berani datang, takut dibongkar di depan umum. Selvin mengalami kelelahan krn layani ribuan org. ayahnya minta agar dia mendoakan org secara masal saja agar cepat selesai, Selvin menegur ayahnya sbg org yg sombong, angkuh dan mau berjalan menurut kehendak daging sendiri. dia minta ayahnya bertobat atau di “pensiun segera”.

Kesaksian demi kesaksian terus tersiar, Sulawesi heboh, dari Sulsel, Palu, Gorontalo, Manado, dll, berbondong2 ke Tentena, semua sibuk mencarter bus, mobil utk datang ke Tentena. Rumah sakit , puskesmas, kosong, seorg Bp. H. Amir dari Poso Kota yg disembuhkan, teriak2 di pasar Central Poso bahwa Tuhannya orang Kristen sudah sembuhkan dia, semua orang tercengang dan heran karena memang semua tau kalo matanya dulu buta dan skrg bisa melihat, seorg bapak kedar lainnya disembuhkan dari kelumpuhan, ia bersuka cita dan memberikan uang jutaan, tapi ditolak Selvin, dr kecil banget ia dijuluki hanya minta Rp. 1.000 utk kolekte, dan sisanya ia minta dibagikan ke orang miskin, ketika Tuhan mulai menyembuhkan, org2 maka terdengar sorak sorai dan teriakan haleluya dari org2 yg disembuhkan. mrk semua menaikan puji2an kpd Allah. bani kedar, hindu, dll. berusaha bisa menyanyikan Allah kuasa melakukan !

Rekonsiliasi besar dari Allah sedang terjadi di Poso.

Selvin adl anak sekolah minggu GKST El Shaday Meko, ia rajin baca firman dan berdoa. Ibunya guru SD, ayahnya pemilik sekolah. GKST El Shaday adalah gereja kecil dgn jemaat hanya 8 KK dipinggiran danau Poso. 6 Jan 2007, malam itu, ia mendapat penglihatan didatangi Tuhan Yesus bersama 1 malaikat. Saat itu ibu Selvin menderita rematik akut tahunan sehingga sulit berjalan, setelah penglihatan itu Selvin bedoa sambil mengusap2 kaki ibunya kemudian disuruh berjalan, ternyata sudah sembuh, dari sinilah kemudian 1 per 1 orang datang minta didoakan. saat ini Selvin di Palu bersama tim doa Palu. Sejak kemarin ia ramai dikunjungi pejabat2 / anggota DPRD. Semua org yg datang diminta ibadah dulu, yg merokok ia tegur jangan rusak bait Allah, yg korup dll dia suruh bertobat.

Kamis ia kembali ke Meko utk KKR Jumat bersama tim doa dan konvoi yg akan ikut KKR tsb. Ia diberikan karunia kesembuhan dan marifat yg sangat kuat.

Sungguh sebuah karya besar ilahi di tengah2 kaum protestan !!

Kesaksian2 tentang kemurahan Tuhan / Tuhan-nya orang Kristen yg menyembuhkan menjadi bahan cerita di warung2, kantor2 dan di mana saja. di Palu, Pdt GPID Efrata Eliezeer T, Donggala 6 bln menderita lever akut dan lambung (sdh 3 bln diistirahatkan krn tdk mampu lagi melayani) kini disembuhkan. Minggu 4 Mar sdh masuk gereja lagi. Tdk semua yg disembuhkan, yg ragu2 dan tdk percaya disuruh pulang.

Seorang yg TBC akut dan bertahun2 tdk bisa kena air dan sepanjang hari memakai jaket ketika disembuhkan ia mandi di danau seharian, stlh itu pergi pasang kupon putih, sakitnya langsung kambuh. Pdt Damanik melaporkan hal ini pada Selvin, dijawab masih ada waktu utk bertobat ! seorang lainnya stlh disembuhkan mengijinkan dukun mengintervensi dirinya, langsung mati.

Ada cukup banyak dukun dan org2 yg merasa punya kekuatan lain utk mencobai pelayanan ini, mrk mati di tempat.

Pesan dari pengirim berita :

Mujizat demi mujizat terus terjadi, konflik horizontal sudah selesai, tetapi konflik internal gereja / antar gereja ??? sangat penting didoakan. mujizat2 yg terjadi di Meko semuanya memuliakan Yesus tetapi harus diingat, Poso / Tentena dikelilingi daerah2 yg sarat perdukunan / kantong2 ilmu hitam, dan Meko sendiri adalah salah satu bekas pusat penyembahan berhala. Saat ini cukup banyak org2 yg merasa punya kekuatan datang ingin mengacaukan situasi di sana.

Sampai hari ini Selvi masih berada di Palu bersama Tim Jaringan Doa Palu. Tetapi situasi di Meko sdh penuh sesak ribuan org datang utk KKR 9 Mar 2007. Tenda2 sdh dipasang, orang memenuhi setiap tanah yg kosong sampai ke pasir putih di pinggir danau. dari rakyat biasa, pejabat2, semua datang menyatu dan semua mengakui Tuhan-nya org Kristen luar biasa.

(pengirim berita adalah Bapak John. K. dari Surabaya).


Mukjizat dari Tepi Danau Poso

Kisah Gadis Kecil Melakukan Mukjizat Penyembuhan


Mukjizat dari Tepi Danau Poso - July 2007

Dari tepi Danau Poso yang elok di Desa Meko, Pamona Barat, Poso, Sulawesi Tengah, Selvin Bungge (8) telah menyedot perhatian jutaan orang di Indonesia. Gadis kecil ini tiba-tiba saja sanggup menyembuhkan ribuan orang hanya dengan jamahan dan doa.

Rasa penasaranlah yang membawa Aleksander Mangoting, koresponden Bahana di Rantepao, Tana Toraja, mengunjungi Meko. Empat hari (16-19/5) berada di sana, ia menyaksikan rindu dan semangat ribuan orang sakit yang bertahan me-nantikan mukjizat kesembuhan.

TENDA DAN SEMANGAT SEMBUH

Hari masih pagi Rabu (16/5) itu, saat truk yang kami tumpangi berhenti di ujung Desa Meko. Lalu-lalang orang dan kendaraan dari berbagai daerah di Sulawesi membuat jalan kami terhambat. Warung-warung dadakan, pengi-napan sederhana dan wc umum berjajar pada sisi-sisi jalan. Inilah anugerah lain dari mukjizat Meko, batin saya. Truk yang membawa Bahana dan 20 jemaat lain dari Rantepao melaju pelan.

Tampak pucuk-pucuk tenda beraneka warna dari bahan terpal, sejak depan kantor kecamatan Pamona Barat hingga lapangan sepak bola. Ya, lapangan bola di depan rumah orangtua Selvin Bungge telah berubah menjadi pemukiman. Di bawah terpal-terpal itu ribuan orang berteduh dari terik dan hujan, menunggu giliran dijamah sang “dokter kecil”, julukan Selvin.

Bukan hanya lapangan. Tenda telah memenuhi lorong-lorong, hala-man rumah, sekolah, balai desa, dan gereja. Sebuah keluarga dari Makassar membangun tenda di samping kandang babi. Mereka tidak peduli aroma kurang sedap yang menguar dari sana. Makan, minum, tidur dan aktivitas lain dilakukan seperti biasa saja. Barangkali dalam benak mereka, apalah arti bau tak sedap daripada kesembuhan yang akan diperoleh? “Pokoknya dua saudara kami ini bisa sembuh,” ucap seorang bapak. Mendengar kabar penyembuhan oleh Selvin, ia membawa 2 kerabatnya yang lumpuh ke Meko.

Kami dirikan tenda, menata barang-barang dan bekal. Hujan yang masih turun di Meko membuat tanah becek, berlumpur digenangi air. Saya maklum. Hari itu saja sekitar lima ribu orang berada di sana. Jika dihitung mundur sejak bulan Januari, saat awal mukjizat penyembuhan terjadi, barangkali telah ratusan ribu manusia menginjak-injak tanah di lapangan Meko itu.

PEMBARUAN BUDI

Kesembuhan fisik yang dialami orang-orang yang datang ke Meko, ibarat gunung es, hanya pucuknya saja. Akarnya, yang lebih besar dan kokoh, yang lebih abadi, adalah refleksi diri dan pertobatan. Kalau kita berhasil mengubur hawa nafsu dan keserakahan, kata Pdt. James Salarupa, S.Th, akan terjadi pembaruan budi. Pada saat itulah kita yakin Allah dapat melakukan apa saja, bahkan yang mustahil di mata manusia.

Dalam bahasa sehari-hari, Pdt. James merumuskan pembaruan budi sebagai tidak dendam, tidak percaya jimat, tidak menyembah berhala, tidak menginginkan istri orang lain, memberi maaf kepada yang menyakiti hati dan seterusnya, sebagai perwujudannya. “Di Meko yang terjadi adalah pertobatan, bersih diri, koreksi diri, sehingga terjadi pembaruan budi. Implikasi pembaruan budi adalah terjadi kesembuhan fisik,” jelas Pendeta dari Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) Meko itu.

Membayar harga untuk kesembuhan tepat untuk menggambarkan situasi di Meko. Kerelaan menunggu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu di tenda-tenda yang lembab, dililit rasa bosan, makan seadanya, tidur beralas terpal atau papan, adalah bagian dari proses kesembuhan yang dinanti. Kerin-duan untuk sembuh telah membawa mereka datang. Dengan kerinduan yang sama pula mereka kuat bertahan dalam penantian itu.

Selvin sejak semula telah menyampaikan pesan Tuhan, agar yang datang mencari kesembuhan harus sudah bersih dirinya. Syarat rohani ini harus dipenuhi. Pdt. Menathan Tulak, S.Th punya cerita tentang dua jemaat-nya. Mereka sudah 10 tahun berselisih paham dan tidak saling menyapa. Tetapi Meko mendamaikan keduanya. Sebelum ke sana mereka saling mengun-jungi dan memberi maaf. Bahkan dalam perjalanan Toraja-Meko mereka duduk berdampingan dalam kendaraan yang sama. Begitulah, kebersihan jiwa menjadi syarat utamanya.

REKONSILIASI

Saat kerusuhan sosial merobek-robek Poso, masyarakat merasa Tuhan sudah meninggalkan mereka. Tokoh gereja seperti Pdt. Ishak Pole dan Pdt. James Salarupa sering mendapat pertanyaan bernada putus asa, ‘Di manakah Tuhan’ atau ‘masih adakah Tuhan di Poso’? Saat peristiwa Meko muncul, keduanya yakin Tuhan telah memberi jawaban kepada jemaat mereka. “Inilah jawaban Tuhan kepada kami. Dia tidak pernah meninggalkan kita,” ucap Pdt. James tegas.

Pdt. Ishak mengamini peristiwa Meko merupakan jawaban Tuhan bagi masyarakat Poso pada umumnya. “Coba lihat itu kursi roda, tongkat-tongkat, kacamata di depan rumah Selvin. Itu bukti bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat pilihan-nya,” katanya bersemangat. Bahwa orang dari berbagai daerah, agama, suku bangsa, gereja, dengan hati mendamba ingin mengalami kebesaran Tuhan di Meko tak terbantahkan. Media telah mengekspos begitu banyak mukjizat kesembuhan yang terjadi di sana.

Selvin BunggaKanker stadium empat, stroke, lumpuh, buta, hanyalah sedikit dari beragam penyakit yang sirna setelah didoakan dan disentuh Selvin. Doa Bapa Kami dan lagu Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara terus didaraskan dari tenda-tenda, penuh penghayatan. Kalau Anda sedang berada di Meko, udara seperti hanya menghembuskan cerita mukjizat kesembuhan yang dialami orang-orang.

TUHAN BEGITU DEKAT

Pada awalnya setiap orang dijamah satu persatu oleh Selvin sambil menyebutkan nama dan penyakit yang dideritanya. Tetapi setelah “pasien” mencapai ribuan orang, mereka tetap dijamah tanpa menyebutkan nama. Acara jamahan merupakan bagian yang selalu dinanti-nanti. Biasanya dilakukan setiap hari Jumat mulai pukul 07.00 – 12.00 , kemudian sore hari pukul 14.00 – 19.00. Di luar jam itu orang harus menanti seminggu lagi.

Tetapi Yesus pernah berkata, “jika punya iman sebesar sesawi saja, maka gunung-gunung itu bisa kamu suruh pindah”. Sungguh Allah Maha Kuasa melakukan perbuatan-perbuatan ajaib. Selama menunggu acara jamahan, orang-orang terus melantunkan Allah Kuasa Melakukan Segala Perkara. Orang-orang sakit duduk dalam lingkaran. Mereka sedikit demi sedikit bertepuk tangan mengikuti lagu-lagu yang dinyanyikan. Mula-mula perlahan, makin lama kian cepat, sampai mereka bisa berjalan.

Bahana menyaksikan sendiri Pdt. Ch. Latuperissa yang mengalami stroke berat. Di tengah-tengah doa dan nyanyi-an ia tiba-tiba melepas tongkatnya dan bisa berjalan dengan normal. Tangan kanannya yang lumpuh dapat ia gunakan lagi. Ia menyalami semua orang di dalam tenda dengan tangan kanannya, padahal sebelumnya pendeta yang sudah emeritus itu harus dibantu saat bersalaman.

Selama empat hari di Meko, mendengar dan menyaksikan sendiri mukjizat terjadi, beragam perasaan berbaur dalam diri saya. Tetapi di tepi danau Poso yang membentang luas itu, saat gerimis tiba-tiba berderai, saya merasa Tuhan begitu dekat.

(Rantepao akhir Mei 2007, Aleksander Mangoting)


KONTRAVERSI AKIBAT TULISAN Pdt. DR. Henoch F. Saerang

Pdt. DR. Henoch F. Saerang
Adalah seorang dosen di Tentena, tulisannya banyak diedarkan untuk membingungkan umat. (cuplikan tulisan)

• IV. Kesimpulan

Mengamati dan mempelajari pergerakan yang terjadi di Meko selama 4 minggu terakhir ini, kami menyimpulkan bahwa, yang dikira sebagai Lawatan Allah bagi suatu Kebangunan Rohani, Bukan sesungguhnya dari TuhanYesus Kristus Juruselamat kita. Yang datang ke Meko, bukan karena ditarik Kuasa Roh Kudus bagi Lawatan Allah yang dahsyat, tetapi semata-mata terpengaruh dengan cerita bahwa ada mujizat dan kesembuhan di sana. Mereka terbagi dalam 3 kelompok masyarakat;

Pertama, Mereka yang sakit dan keluarganya; kedua Mereka yang ingin melihat apa yang sesungguhnya terjadi atau yang terprovokasi dengan ceritera spektakuler; ketiga, Mereka yang ingin mengetahui apa dan bagaimana sesungguhnya peristiwa itu.

Pada umumnya yang diakui mengalami kesembuhan di Meko, kembali sakit. Bahkan ada beberapa yang meninggal. Meninggal di tenda-tenda lapangan Meko sudah 3 orang, dan yang telah kembali ke rumah sekitar 10 orang.

Sebenarnya, dari indikasi dan gejala-gejala yang muncul, Ini adalah sebuah Fenomena Spiritisme.

Pdt. DR. Henoch F. Saerang
Tentena


• Untuk semua, Kami baru mendapatkan data tentang Penulis Spriritualisme diatas , yang bersangkutan adalah Kepala Sekolah Teologia di Tentena. Dalam tugas sehariannya cukup banyak menimbulkan pro dan kontra khususnya dikalangan jemaat GPDI menyangkut roh percabulan atasnya. Sudah beberapa kali kejadian yang dilakukan oleh DR, HFS menyangkut tindakan cabul, tetapi pimpinan GPDI Pusat tidak memberikan tindakan atau pembinaan, mungkin karena pendidikan yang bersangkutan. Sehingga kita harus berhati-hati dengan roh yang ada pada DR. HFS (Didi S)

Salam untuk semua
Uriel (diambil dari: http://fransnico.wordpress.com/) uriel said this on April 23rd, 2007 at 1:02 pm

KESAKSIAN DARI:

Martha M.Kombolangi s June 7th, 2007 at 7:33 am

Saya bekerja di perusahaan asing di Balikpapan , sehingga saat saya mendengar berita mengenai ’dokter kecil’ dari Meko , saya langsung searching lewat google untuk mencari berita tersebut dan blog ini memberikan informasi yang cukup bermanfaat buat saya. Saya mengambil cuti selama 2 minggu , khusus untuk ke Meko . Saya berada di Meko dari 13 – 19 Mei 2007 dan sengaja mencari tempat di balai desa/Baruga supaya bisa sepenuhnya mengikuti kebaktian yang diadakan malam hari. Saya sebagai orang awam melihat dengan mata kepala sendiri mujizat yang terjadi di Meko dimana orang lumpuh berjalan , orang bisu berbicara , orang tuli mendengar , orang bungkuk menjadi lurus dll. Saya hadir disana bukan untuk bertemu Selvin atau ibunya tapi saya rindu untuk melihat kemulian Tuhan.

Ratusan ribu orang dari suku bangsa saya Toraja bertobat datang pada Tuhan mengakui segala dosa, membuang kebiasaan lama merokok, judi , berhala dlll. Bahkan pendeta pendeta Gereja Toraja berbondong bondong datang untuk bertobat dan menikmati kemulian Tuhan.

Orang orang Toraja berbondong bondong turun dari gunung keluar dari kampung kampung datang dari pulau pulau seluruh Indonesia untuk melihat dan menikmati kemuliaan Tuhan . Mujizat-mujizat itu terjadi tanpa ataupun dengan jamahan Selvin/ibunya.

Mujizat banyak terjadi saat jemaat menaikkan pujian dengan sepenuh hati kepada Tuhan, bahkan saya melihat sendiri seorang keturunan Tionghoa dari Makasar diarak orang dijalan sambil menyanyikan bilurNya-bilurNya karena dia yang tadinya lumpuh dan bisu langsung berjalan dan berbicara saat baru sampai di lapangan Meko.

Tidak akan pernah terlupa dari ingatan saya akan peristiwa ini, karena saya tidak akan pernah melihat orang orang berjalan dijalan ber-arakan menyanyikan BilurNya bilurNya selain di Meko.

Tidak ada satupun unsur okultisme…….. Tapi yang ada adalah Roh Alllah bekerja luar biasa melalui puji pujian yang dinyanyikan terus menerus dari jam 08 sampai jam 12 malam. Dilanjutkan dengan kebaktian dari jam 12 sampai jam 3 pagi. Tidak ada kegiatan siang hari , kecuali hari jumat ada jamahan yang dilakukan oleh ibunya Selvin. Tidak ada komat kamit okultisme, yang ada adalah Roh Allah bekerja, imbauan untuk bertobat , rajin beribadah, rajin berdoa dan membaca Alkitab dan percaya sepenuhnya bahwa Alkitab adalah firman Allah, Efesus 5 ayat : 1- 21 diulang ulang dibacakan agar orang hidup sebagai anak anak terang , penerapan doa Bapa kami dalam hidup sehari hari juga diajarkan.

Revival dan pemulihan iman yang luar biasa terjadi dalam Gereja Toraja .

Biarkanlah orang yang mengatakan melihat naga ataupun gambar lainnya di depan rumah Selvin berkata demikian , terlalu banyak hal mistis yang harus diperdebatkan . Bahkan banyak orang yang membuat rumor yang terlalu berlebihan mengenai Selvin , katanya dia pernah berjalan di atas air saat menghentikan banjir dari sungai meko, semua itu hal yang salah. Selvin hanyalah anak anak biasa dia juga tidak ingin orang mengagungkan dia . Dia dan ibunya selalu menekankan bahwa mereka hanyalah alat Tuhan, bukan mereka yang menyembuhkan tetapi iman kitalah kepada Kuasa Tuhan Yesus.

Itulah yang membuat jemaat bersemangat menyanyikan Allah kuasa melakukan, BilurNya BilurNya BilurNya sungguh heran , Yesus itulah satu satunya penolongku yang sungguh… bisa dinyanyikan berulang ulang sampai 50x …….

Biarlah semua orang memuji Tuhan karena Yesus Tuhanku Engkau luar biasa .

Teman teman yang ingin mendapatkan informasi mengenai cara pergi ke Meko dan apa saja yang perlu dipersiapkan silahkan contact saya : marthank@chevron.com


KESAKSIAN:

Yoseph Rende Batti June 29th, 2007 at 3:47 pm
Pdt. DR. Henoch F. Saerang yang kami hormati,
Salam dalam kasih Tuhan Yesus,

Semoga tulisan ini tidak dianggap sebagai bantahan;
Nama saya Rende Batti’, saya bukanlah apa-apa, saya hanyalah anggota jemaat biasa sebuah Gereja kecil di Bekasi Timur, saya bukan pendukung/pengikut Selvin dan ibunya tapi saya adalah pengikut Yesus

Menanggapi tulisan Bapak tentang Meko,
Saya telah kembali dari desa Meko, desa yg sejuk dipinggiran danau Poso sungguh sebuah pemandangan yang indah dapat kita saksikan di sana, jauh dari kebisingan kota dari Palu sekitar 340 km, sedangkan dari Makassar sekitar 700 km (sekiranya Tuhan menghendaki saya akan kembali ke sana) karena didorong oleh keinginan untuk mengalami dan menyaksikan lawatan Allah maka semua kendala yang ada kami kesampingkan, jarak dari Jakarta ke Makassar melewati jalan darat menuju Meko ataupun masalah biaya, itu tidak menjadi kalkulasi yang utama, itu sama sekali tidak boleh dihitung-hitung.

Sungguh luar biasa, menyaksikan apa yang pernah kami baca dalam Alkitab dapat kami saksikan di sana ”Yang buta bisa melihat, yang lumpuh bisa berjalan, dan banyak penyakit lain yang sudah disembuhkan”, sungguh sebuah perjalanan Rohani yang mengesankan, syukur itu terjadi pada jaman di mana saya ada.

Mengapa anak kecil yang dipilih ?? salah satu ”keberatan” dalam tulisan Bapak;

1. Sebagai orang Kristen, kita meyakini bahwa Allah itu transenden (diluar akal dan logika manusia) meski manusia itu sudah merasa ahli theologia sekalipun tidak akan pernah bisa menyelami apa maksud Tuhan secara keseluruhan ada bagian-bagian yang menjadi rahasia Tuhan, ingat Daud dipilih oleh Tuhan pada saat Daud masih sangat mudah, belum melalui proses apapun kecuali gembala pada hal yang dipimpin oleh Daud adalah umat pilihan Tuhan, kekuasaan dan kemauan Tuhan tidak dapat diganggu gugat oleh manusia manapun. Memang ada beberapa orang sebelum dipakai oleh Tuhan terlebih dahulu melalui proses tapi kan tidak semuanya harus berlaku sama, sekali lagi itu adalah otoritas Allah. Bukan seperti rumus karena A maka B, atau karena si A melalui proses maka si B juga harus demikian.

2. Anak kecil belum tahu apa-apa untuk dapat menyombongkan diri juga belum tahu komersil untuk sesuatu yang dicapainya, dan anak kecil adalah simbol kepolosan dan kesederhanaan sikap apa adanya ini sebenarnya tamparan buat orang yang terlalu merasa lebih rohani dari sesamanya (Pernah ada seorang pasien yang disembuhkan, hendak memberikan uang Rp 5 juta pada Selvin. Namun Selvin hanya mengambil Rp 1000 dan mengatakan, uang itu akan didermakannya untuk gereja di hari Minggu, Solusi SCTV 4 April), di sana tidak ada kantong persemahan yang dijalankan setiap kebaktian/sesion ibadah, yang ada hanya kerelaan untuk memberikan pada saat perpisahan Sabtu pagi.

3. Tuhan sering memperkenalkan Diri melalui hal-hal sederhana (1 Raja-Raja 19:11–13) bagaimana Tuhan menampakkan diri kepada Elia melalui angin sepoi-sepoi basa, bukan melalui Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu atau melalui gempa atau melalui api. Tuhan juga menyapa kita melalui wujud bayi Yesus dari keluarga yang sangat sederhana Di sana ada yang tidak sembuh bahkan ada yang meninggal ? …itu benar ; pada jaman Tuhan Yesus saja tidak setiap orang sakit yang berjumpa dengan Yesus serta merta disembuhkan bahkan pada jaman itu juga tetap ada yang meninggal, lalu apakah ini lantas akan merubah kepercayaan kita kepada Yesus?…. ingat Yesus datang tidak seperti yang diharapkan oleh orang Israel (gagah perkasa, pemberani dan mampu membebaskan mereka dari penjajahan bangsa Romawi pada masa itu) bahkan terakhir harus tergantung di kayu salib tanpa daya !!! lalu apakah ini juga harus membuat kita mundur ? Mengapa Meko sebuah desa yang sederhana bukan istora atau hotel berbintang ??

Meko adalah bagian kecil dari kabupaten Poso desa yang sederhana di sana juga pernah terjadi konflik horisontal antar umat beragama, yang ada di sana Tuhan mengajarkan kepada manusia bagaimana saling berbagi, saling memaafkan dan saling menolong tanpa berpikir untung ruginya.

Lalu mengapa bukan di istora atau hotel berbintang? Supaya orang dari segala lapisan dapat merasakan jamahan dari Tuhan tersebut, saya juga mungkin akan kikuk semisal itu terjadi di hotel berbintang apa lagi orang-orang kampung yang sangat sederhana yang juga banyak datang ke sana, tempatnya sangat sederhana dari tenda-tenda plastik alas papan, semua orang dari berbagai lapisan berbaur jadi satu, hal yang tidak mungkin terlihat jika sekiranya itu terjadi ditempat yang mewah.

Berdoa menut keyakinan masing-masing dan saya akan pimpin dalam doa Bapa Kami ? itu juga benar.

Ini sangat jelas!!! Manusia diberi kebebasan untuk memilih, karena di sana tidak ada sistem doktrin bahwa orang harus jadi Kristen terlebih dahulu baru bisa disembuhkan, di sana yang ditekankan adalah bagaimana meyakini adanya Tuhan, disisi lain saya yakin yang bekerja di sana adalah Tuhan yang kita sembah, setiap orang yang ke sana diperlihatkan bagaimana kuasa Tuhan yang kita sembah itu bekerja secara dasyat!!! Sungguh hanya dengan puji-pujian, orang dari keyakinan lain tetap diingatkan bahwa yang menyembuhkan mereka adalah Tuhan tinggal bagaimana manusia itu memahami Tuhan yang mana yang menyembuhkan mereka (meskipun itu dibahasakan sesuai dengan keyakinan mereka tetapi tetap ”hanya ada satu Tuhan”) terjemahan Alkitab sendiri untuk Tuhan menyesuaikan dengan bahasa lokal/setempat, disebut apa ”Yang Maha Kuasa / Yang Mulia” pada daerah tersebut, itu yang diikuti untuk terjemahan Tuhan (di sana tidak dikatakan Allah kita sama) sekali lagi tinggal manusianya memahami Tuhan yang mana yang telah menyembuhkannya dan Tuhan mana yang harus disembah, apakah Tuhan dari orang yang telah mendoakannya, ataukah Tuhan yang dia sapa lewat doanya sendiri.

Ingat sejak awal penciptaan alam di dalam taman Eden ; Tuhan menghadirkan pohon pengetahuan baik dan jahat, ini jelas kepada kita bahwa dari awal manusia diberikan kebebasan untuk memilih, tentunya memilih dengan segala konsekuensi, dan ini bukan berarti Allah membiarkan manusia untuk jatuh ke dalam dosa, itu kita yakini bersama.

Mungkin saja kalau di Meko diisi dengan banyak khotbah maka orang dari keyakinan lain akan merasa didoktrin bahkan mungkin ada yang akan mengatakan ”memanfaatkan kesempatan untuk kristenisasi” , ini kan fatal. Untuk kasus ini saya yakin Tuhan sudah berencana dari awal.

Puji Tuhan peristiwa Meko membawa banyak perubahan drastis, banyak orang dengan sendirinya rajin ke Gereja pada hari minggu, banyak meninggalkan kebiasaan buruk, lebih dasyat lagi banyak orang yang kembali dari Meko menyerahkan diri untuk dibaptis, lalu apakah ini tidak akan anggap sebagai pekerjaan Roh Kudus? Tinggal bagaimana pihak Gereja me-”manage” hal ini sehingga orang tidak lagi menjadi kendor atau malah bahkan mundur.

Yang terakhir : di sana hanyalah berdoa, baca firman dan menyanyi Lagu Rohani tanpa iringan musik sama sekali, ya hanya dengan tepuk tangan semuanya dengan penuh kesederhanaan. Orang tidak dipaksakan untuk mengucapkan bahasa yang tidak dimengerti oleh diri sendiri dan juga tidak dapat dimengerti oleh orang lain, yang ada bagaimana orang menangkap pesan yang ada lewat pujian, doa dan pembacaan yang mereka dengar!!!

Jangan mempermainkan keyakinan dengan logika manusia yang sebenarnya sangat terbatas, yang penting mau menerima kuasa Tuhan dengan segala kepolosan tanpa harus berlogika tetapi hanya dengan iman, karena jika secara logika manusia kematian dan kebangkitan Yesus-pun tidak akan pernah terjangkau oleh logika.


ARTIKEL MENARIK LAINNYA:

" Menjadi Orang Besar Dalam Kristus" dan "BERILAH MAKA KAMU DIBERI" serta artikel "Bagaimana satu Tuhan terdiri dari tiga pribadi?"

" ALLAH TRITUNGGAL" dan "Pengakuan Iman Reformed Injili" serta Pemahaman "MENGAPA INJIL MATIUS DITULIS"

Sandiwara Pekerjaan

Sandiwara Pernikahan

Sandiwara Cinta Kasih

Sandiwara Tahun Baru

Sandiwara Persembahan

Sandiwara Keluarga

Sandiwara Keadilan

Sandiwara Pelayanan

Sandiwara Kehidupan

Sandiwara Spiritualitas

Sandiwara "Damai Di Bumi"

" RELASI ORANG TUA DAN ANAK DI HARI TUA" dan "MENCEGAH MASALAH-MASALAH DALAM USIA LANJUT"

" MEMANTAPKAN BAGIAN USIA KETIGA" dan "TOLONG, SAYA BERTAMBAH TUA!"

" SAMPAI HARI TUAKU" dan "Doa tak sekedar kata kata Indah..."

" Pensiun dan Pengaruhnya" SELINGAN "SUDOKU Brain Teaser" dan "Transformasi Pikiran Kristen"

"Permulaaan Pembaharuan Gereja (Reformasi)" dan "Panggilan Ulang"

"Seni Berkunjung Kepada Orang Sakit " dan "Memahami Kepribadian Orang Lain "

"Anak Tuhan dan Karirnya" dan "Siapakah Aku ? "

"Kemarahan " dan "Bahaya-bahaya Kepahitan yang Tak Terampuni "

"Post Power Syndrome " dan "Lima Langkah Menuju Masa Pensiun yang Kreatif "

"Menghadapi Kematian " dan "Duka Karena Kematian Orang yang Dikasihi "

"MEMBANGUN KESEIMBANGAN oleh Bpk. Pieter Batti'" & "PEMILIK PENGINAPAN YANG MENOLAK MESIAS oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi"


Google Custom Search


Google SEARCH ENGINE dalam Bahasa INDONESIA, khusus untuk Artikel GEREJAWI




Learn more at TheDailyBibleVerse.org



"KLIK DISINI UNTUK BACAAN ALKITAB ONLINE 1 TAHUN"



Lookup a word or passage in the Bible



BibleGateway.com
CARI 'Ayat Alkitab' atau 'kata di Alkitab' dalam Bahasa INDONESIA - KLIK DISINI



25 Mei 2007

SUARA PENGGEMBALAAN
FENOMENA MEKO: PERBUATAN ALLAH!

Peristiwa penyembuhan dan pemulihan, lazim orang sebut sebagai mujizat oleh karya kuasa Allah, yang terjadi di Meko, Kecamatan Pamona Barat, Kabupaten Poso, telah menarik perhatian banyak orang baik berupa kekaguman, maupun berupa pertanyaan-pertanyaan dari sebagian orang, termasuk dari warga Gereja Toraja. Ada warga jemaat yang mengajukan pertanyaan baik secara langsung maupun secara tidak langsung melalui komunikasi pesan singkat (SMS). BPS Gereja Toraja telah mengikuti perkembangan dari apa yang sering disebut FENOMENA MEKO itu sejak pertengahan Maret 2007. BPS Gereja Toraja telah berusaha mencari informasi dari berbagai pihak, misalnya dari Ketua I Majelis Sinode Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST) yaitu Pdt. Ishak Poleh, pendeta-pendeta GKST yang dilibatkan melayani bersama Selvin dan Ibunya sejak mulainya Fenomena Meko misalnya Pdt. Rinaldy Damanik dan Pdt. James Salarupa, dan pendeta-pendeta Gereja Toraja yang melayani di jemaat-jemaat yang berdekatan dengan lokasi, terutama Pdt. Gideon Tulak di Jemaat Kanaan Meko dan Pdt. Petrus Se’seng di Jemaat Yizreel Bancea. Bahkan untuk mendapat kepastian apa sesungguhnya yang terjadi di Meko, Pdt. Soleman Batti’ (Ketua Umum), Pdt. I.Y. Panggalo (Sekretaris Umum), dan Pdt. J.K. Parantean, M.Th. (Ketua I) BPS Gereja Toraja telah datang ke Meko untuk mengalami secara langsung suasana ibadah-ibadah di mana penyembuhan dan pemulihan bagi banyak orang itu terjadi. Berdasarkan pengalaman itulah BPS Gereja Toraja mengeluarkan surat yang disebut SUARA PENGGEMBALAAN TENTANG FENOMENA MEKO ini.

Kepada segenap Warga Jemaat Gereja Toraja Yang Dikasihi Tuhan!

Pada tanggal 6 Januari 2007, seorang anak kecil usia 8 tahun, bernama Selvin (anak keempat dan bungsu dari pasangan suami istri Alfons Bungge dengan Mariati Sologi), diperkenan Tuhan menyembuhkan ibunya yang sedang sakit. Menurut penuturannya, penyembuhan itu terjadi karena disuruh oleh Tuhan Yesus yang disebutnya ”Tete Manis”. Dia disuruh menyembuhkan banyak orang. Penyembuhan atas ibunya itu disusul dengan penyembuhan atas orang-orang sakit lainnya di Meko. Selanjutnya berita tentang kuasa penyembuhan ilahi itu mulai menyebar dari mulut ke mulut, dari lingkaran kecil Meko, beranjak ke daerah sekitarnya, dan semakin lama semakin ke luar dan meluas. Orang-orang yang telah mendapatkan kesembuhan di Meko menyampaikan berita sukacita itu kepada keluarga, teman-teman, tetangga, dll. Penyebaran berita penyembuhan ilahi itu juga begitu cepat melalui telepon selular, baik melalui informasi suara maupun informasi tertulis dalam bentuk SMS. Konon warga Gereja Toraja dan masyarakat Toraja termasuk yang terbanyak pergi ke Meko. Dan, syukur kepada Tuhan karena kita jugalah yang paling banyak mengalami karunia kesembuhan dan kepulihan. Namun, karena ada pertanyaan-pertanyaan dan mungkin juga perbedaan pendapat yang muncul, maka Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja menyampaikan suara penggembalaan ini kepada seluruh warga Gereja Toraja:

1. Pengakuan Gereja Toraja Bab I ayat 2 mengatakan, ”Allah itu adalah satu-satunya sumber kehidupan, berkat, dan kebaikan. Hanya Dialah yang boleh disembah.” Patokan Gereja Toraja untuk melihat peristiwa Meko adalah Alkitab dan Pengakuan Gereja Toraja. Kesembuhan, kepulihan, dan kebertobatan yang banyak orang alami di Meko tidak bisa dianggap berasal dari yang bukan Allah. Kita percaya bahwa Allah mahakuasa sepanjang masa. Dia hadir di segala waktu dan tempat. Firman Tuhan dalam Matius 18:20 mengatakan ”Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” Tuhan hadir di tempat di mana Nama-Nya disembah dan dimuliakan dalam perkumpulan. Tuhan dapat bertindak di mana saja dan kapan saja Ia berkehendak. Tidak ada yang dapat menjadi penasihat Tuhan. ”Siapa yang dapat mengatur Roh TUHAN atau memberi petunjuk kepada-Nya sebagai penasihat?” (Yes 40:13). Kalau Dia berkehendak memilih seorang anak sekolah yang baru duduk di kelas III bernama Selvin, dan kemudian juga Ibunya (Ibu Mariati Sologi), serta daerah Meko untuk menyatakan karunia penyembuhan-Nya atas penderitaan sebagian umat manusia, maka hanya iman yang bisa menerimanya. Mungkin juga ada yang tidak percaya dengan alasannya sendiri.

2. Apa dan bagaimana pendapat Gereja Kristen di Sulawesi Tengah sendiri, di mana Selvin dan Ibunya menjadi anggota? Salah satu SMS yang kami terima dari Ketua I Majelis Sinode GKST berbunyi, ”Ketika terjadi kerusuhan di Poso dan Sulteng, di mana pendeta kami ditembak di atas mimbar, Bendahara dibunuh di jalan raya, anak-anak sekolah dipancung kepalanya, Sekum GKST mati ditembak di Palu, gedung-gedung gereja dibakar, sebagian besar warga gereja mengungsi, sesungguhnya kami telah menaruh tanda tanya besar tentang iman kami, apakah memang Kristus itu ada? Tetapi peristiwa di Meko kembali meneguhkan iman kami, dan percaya dengan sungguh bahwa Kristus benar-benar hidup.” Demikian juga pernyataan GKST dalam buku Fenomena Mujizat Kesembuhan Ilahi di Meko, yang ditulis oleh Pdt. Dr. Tertius Y. Lantigimo, “Fenomena Meko adalah pekerjaan Roh Kudus. Tuhan menyatakan kasih dan kuasa-Nya bagi nereka yang menyatakan pertobatan, dan menghubungkan manusia yang satu dengan manusia yang lain tanpa dibatasi oleh aliran, agama, suku, dan ras.” Merenungkan hal itu maka sesungguhnya sedang terjadi sebuah proses rekonsiliasi dengan cara Allah sendiri tanpa panitia dan tanpa perjanjian-perjanjian dari mereka yang bertikai seperti yang dilakukan orang selama ini. Dengan begitu, juga telah terjadi proses penyembuhan luka-luka sosial yang diakibatkan oleh konflik yang berkepanjangan. Tepatlah yang berulang kali disampaikan oleh ibunya Selvin, “Janganlah datang ke sini untuk berobat. Di sini tidak ada pengobatan, tetapi yang ada ialah pertobatan.“ Dengan pertobatan itu maka Allah berkenan menyembuhkan “luka-luka“ yang diderita manusia. Kalau anda bertobat dan Tuhan berkenan menyembuhkan maka anda pun sembuh.

3. Bagaimana dengan anggapan bahwa fenomena Meko itu bukanlah kehendak Tuhan melainkan fenomena nabi palsu atau kuasa yang bukan dari Tuhan? Seruan yang sejak awal dan terus dikumandangkan di Meko adalah panggilan pertobatan. Itu sama dengan yang telah diajarkan oleh Yohanes Pembaptis (baca Mrk. 1:4, Luk. 3:3, Mat. 3:2), Tuhan Yesus (Mrk. 1:15, Mat. 4:17), dan rasul-rasul-Nya (Kis. 2:38, 3:19, 8:22, Why. 2:5, 16, 3:3, 19). Seruan pertobatan tidak pernah disampaikan oleh iblis dan atau nabi palsu. Alkitab tidak berbicara tentang nabi palsu, tetapi nabi yang bernubuat palsu. Mengapa palsu? Yermia 5:2 menjelaskan "mereka berkata: "Demi Tuhan yang hidup", "namun mereka bersumpah palsu" (bnd. Yer 5:31; 14:14; 23:25). Nabi palsu selalu memuaskan telinga pendengarnya, berusaha memenuhi keinginan mereka yang datang kepadanya. Tentu saja berbeda dengan nabi yang benar, karena nabi benar mengumandangkan pertobatan dan menyatakan kehendak Tuhan baik melalui perkataan maupun perbuatan, termasuk berita penghukuman. Tetapi sebenarnya wacana nabi palsu dan nabi benar tidaklah relevan dalam Fenomena Meko, sebab baik Selvin maupun Ibunya tidak pernah mengklaim dirinya sebagai nabi. Sebaliknya, mereka selalu berusaha merendahkan diri dalam kesederhanaan mereka, karena yang utama ialah KUASA ALLAH yang membawa kepada pertobatan, memberikan kesembuhan, dan kepulihan. Itulah sebabnya mereka selalu menolak untuk difoto.

4. Bagaimana kalau orang sakit pergi ke Meko tetapi tidak mengalami penyembuhan? Nampaknya tidak semua orang sakit yang pergi ke Meko mengalami kesembuhan secara jasmani. Kalau seseorang pergi ke Meko dengan target harus sembuh secara fisik, maka sebenarnya ia sudah tidak menempatkan diri pada posisi BERSERAH DIRI PADA APA DAN BAGAIMANA KEHENDAK TUHAN untuk dirinya. Pada saat seseorang memaksakan kehendaknya ia telah menjadi nabi palsu untuk diri sendiri. Apabila anda memutuskan pergi ke Meko, muliakanlah Tuhan, saling mendukunglah melalui doa dan pujian-pujian. Kesehatan dan kesembuhan seluruhnya tergantung pada perkenan Tuhan. Tuhan pasti mengetahui apa yang paling baik bagi setiap anak-Nya. Rasul Paulus menyatakan bahwa ia telah berulangkali bermohon kepada Tuhan agar duri dalam tubuhnya dikeluarkan Tuhan, tetapi dia sendiri sadar ada manfaat dari duri di dalam dagingnya itu. Ia berkata, ”Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri.” (2 Kor 12:7). Dengan iman Rasul Paulus mengatakan, ”Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ’Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.” (2 Kor 12:9-10). Walaupun tidak sembuh secara fisik namun Rasul Paulus menerima semuanya itu dengan pengucapan syukur sambil menjalankan tanggung jawabnya sebagai pemberita Injil. Setiap masalah yang kita alami mengandung maksud Tuhan. Tuhan pasti punya rencana yang baik untuk setiap orang percaya. Dengan demikian bersandarlah pada kehendak Tuhan agar tidak menghakimi diri sendiri, lalu menjadi kecewa apabila belum ada kesembuhan secara fisik. Sebaliknya mereka yang kembali dari Meko dalam keadaan sembuh, baiklah dengan rendah hati menikmati karunia Allah yang telah dialami dan janganlah menganggap diri lebih bersih daripada yang lain. Yang utama dari semuanya ialah bahwa kita dapat memuliakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya dalam segala perkara.

5. Bagaimana seharusnya menilai Fenomena Meko? Seringkali orang menilai suatu fenomena berdasarkan atau dari perspektif kepentingan pribadinya. Artinya, bila kepentingannya terpenuhi di Meko, ia akan bersaksi dengan bersemangat bahwa fenomena Meko adalah mujizat dan kuasa Tuhan. Tetapi kalau tidak, ia akan memberitakan bahwa Meko adalah kepalsuan semata-mata. Namun, apabila kepentingan pribadi diletakkan dalam kerangka kepentingan bersama, maka ia tidak akan menutup mata melihat kenyataan adanya orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, orang tuli mendengar, penyakit kanker disembuhkan, dll. Firman Tuhan mengatakan, ”Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Rm 12:15) Sekalipun tidak semua orang mengalami kesembuhan fisik di Meko, kita patut mengakui bagaimana Tuhan telah mengubahkan hidup banyak orang yang datang ke sana. Adalah membesarkan hati bahwa banyak orang kembali dari Meko telah merasakan kekuatan rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus sehingga bertobat dari kebiasaan hidup yang melawan kehendak Tuhan. Ada yang berhenti berjudi, ada yang mulai rajin ke gereja, ada yang mulai berhenti minum minuman beralkohol, ada yang berhenti merokok, mulai belajar hidup penuh kasih terhadap sesama manusia, ramah, mengampuni, dsb. Segala kemuliaan itu adalah bagi Tuhan Yesus Kristus yang telah mengurbankan Diri-Nya untuk kita manusia berdosa. Jadi, sebagai orang beriman kita patut bersukacita dan mengucap syukur kepada Tuhan, meskipun mungkin kita sendiri secara pribadi tidak memperoleh kesembuhan sebagaimana yang kita harapkan. Melalui Fenomena Meko ini kita dapat menemukan dan menikmati bahwa Tuhan Yesus yang kita imani itu memang Ada, Hidup, dan tetap Berkarya.

6. Haruskah datang ke Meko? Bukankah Tuhan hadir di sini juga? Benar, Tuhan hadir dan bekerja di mana saja dan kapan saja. Apabila anda merasa terpanggil untuk datang ke Meko ke sanalah. Tetapi kalau anda yakin Tuhan ada di sini, dan merasa tidak perlu ke Meko pujilah Tuhan. Semua keputusan adalah keputusan pribadi, tanpa pengaruh, tanpa diajak, dan tanpa iming-iming. Seorang tunanetra yang menjadi organis pada ibadah minggu di Jemaat Galaxi Jakarta pada tanggal 20 Mei 2007, ketika ditanya oleh seorang Majelis Gereja, apa tidak ke Meko, siapa tahu Tuhan memberi kesembuhan, ia menjawab: “Saya khawatir kalau saya sembuh, semangat pelayanan saya dengan apa adanya saya sekarang berubah”. Ini pun sebuah sikap iman yang patut dihargai. Pada kenyataannya, memang jauh lebih banyak orang yang tidak datang ke Meko daripada yang sudah sempat datang. Memang patut juga dicatat bahwa tidak semua kita masih harus membutuhkan mujizat dulu baru bertobat dan setia-taat dalam iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Iman tidak harus selalu bergantung pada mujizat. Karena, pada dasarnya hidup yang Tuhan karuniakan kepada kita ini sendiri pun sesungguhnya adalah sebuah mujizat. Jadi, kita pun sungguh patut mengucap syukur kepada Tuhan kalau sudah demikian iman kita.

7. Bagaimana dengan bentuk ibadah dan puji-pujian yang dinyanyikan di Meko? Pengalaman beribadah warga Gereja Toraja yang sudah kembali dari Meko perlu mendapatkan bimbingan, arahan, penyaluran, dan pendampingan dari Majelis Gereja. Semangat beribadah yang tumbuh dalam hati setiap anak Tuhan dan yang dirasakan lebih menyentuh sampai di hati dan terasa mendekatkannya kepada Tuhan, perlu mendapat tempat dan tanggapan yang positif dalam ibadah Gereja Toraja. Peristiwa dan pengalaman Meko telah memberikan satu pesan yang penting untuk membangun kembali pemahaman kita tentang apa sesungguhnya itu gereja dan bergereja. Di sana, semua orang yang datang dari latar belakang yang berbeda (agama, suku, kampung, status sosial, dsb.) memasuki komunitas beribadah dengan hati yang kosong dan terbuka untuk diubah, dipulihkan, dan dibarui oleh kuasa Roh Kudus. Semua orang merasa sama di hadapan Tuhan. Semua orang tergerak untuk saling menolong, saling memberi tempat di tenda-tenda, saling memberi tempat di hati. Firman Tuhan yang dibacakan (tidak dikhotbahkan) langsung memengaruhi sikap hidup orang. Tidak ada jurang antara firman Tuhan yang didengar dengan perilaku hidup di tenda-tenda (lokasi). Orang digerakkan dan bergerak saling mengasihi. Kuasa kasih yang dipraktikkan menyembuhkan dan memulihkan! (Bnd. Mzm. 133:1-3)

8. Apakah dan siapakah yang kita temui di Meko? Warga Gereja Toraja yang berencana pergi ke Meko, persiapkanlah diri dan seluruh keluarga dalam iman untuk mengalami kuasa dan kehadiran Allah. Syukurilah dan hayatilah anugerah dan pemeliharaan Allah yang sudah ada. Sebelum berangkat, berdoalah dan mintalah apakah Tuhan berkenan anda datang ke sana? Berdamailah dengan semua orang! Berserah dirilah dan bersiaplah menerima apapun keputusan dan kehendak Tuhan. Ingatlah, Selvin, Ibu Mariati Sologi (ibu Selvin), dan daerah Meko hanyalah alat untuk tujuan tertentu dari Tuhan: Melalui mereka Tuhan menyatakan secara khusus dan istimewa tanda-tanda Kerajaan Allah. Salah satu bentuk penyembahan berhala adalah menjadikan alat menjadi tujuan. Oleh karena itu, Ibu Mariati Sologi berkali-kali menekankan bahwa dia bersama Selvin hanya alat Tuhan dan yang memulihkan orang adalah iman dan pertobatan yang sungguh kepada Tuhan. Sikap sangat sederhana dan rendah hati yang dipraktikkan oleh Selvin dan Ibunya dalam melayani Tuhan dan umat-Nya yang datang ke Meko haruslah menjadi contoh untuk semua orang yang menganggap diri sebagai pelayan Tuhan dan atau sebagai umat Tuhan.

9. Jadi bagaimana kesimpulannya? Penyembuhan dan pemulihan yang terjadi di Meko kita yakini sebagai Perbuatan Allah sendiri dengan tujuan tertentu. Yang terjadi sebagai dampak yang kelihatan ialah rekonsiliasi sosial, penyembuhan, dan pemulihan. Pemulihan penyakit fisik, pemulihan hubungan antarmanusia (luka-luka sosial), dan pemulihan semangat iman yang akhir-akhir ini nampaknya cenderung dikalahkan dan ditelan oleh gelombang kegilaan terhadap materialisme, hedonisme, egoisme, fatalisme, apatisme, dan pementasan keangkuhan. Kalau anda yakin bahwa di Meko Allah menyatakan kuasa dan kemuliaan-Nya, lalu yakin dan rindu mengalami suasana itu bersama dengan semua orang yang datang ke sana, berdoalah sebelum mengambil keputusan untuk pergi. Tetapi sembuh dan tidak sembuh dari penyakit, semuanya tergantung pada kehendak Tuhan saja. Perlu tetap kita yakini bahwa kehadiran Tuhan dapat kita alami di mana saja dan kapan saja. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan kita memang ada dan tetap berkarya, baik di Meko maupun di semua tempat lain: Dalam rumah tangga, di desa-desa, di kota-kota, di tempat kerja, dalam perjalanan, dalam pergumulan, dalam masyarakat, di dalam dan di luar jam-jam ibadah, dan di mana-mana. Ia pun bekerja melalui Roh Kudus-Nya dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Taatlah dan bertobatlah senantiasa karena Tuhan ada di antara kita. Tuhan Yesus sudah berkata, “Sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu“ (Luk. 17:21). Tuhan kita yang hidup itu kiranya memberkati kita semua.

Salam dan doa

Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja

Ketua Umum, Pdt. Soleman Batti’

Sekretaris Umum,

Pdt. I.Y. Panggalo


"SUARA PENGGEMBALAAN - FENOMENA MEKO: PERBUATAN ALLAH! "



SEBUAH PERMENUNGAN
“Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik” (1Tes.5:22)
oleh: Bpk. Pdt. DR.T.H.Kobong STh.


Suara Penggembalaan (SP) BPS Gereja Toraja tentang Fenomena Meko (FM) bisa dianggap bahwa BPS Gereja Toraja sudah melaksanakan nasihat/perintah rasul Paulus di atas. Tiga “pejabat teras” BPS telah datang ke Meko untuk langusng mengalami FM. Mereka telah mencoba memperoleh informasi dari berbagai pihak, termasuk dari pihak Gereja Kristen Sulawesi Tengah (GKST).

Setelah kita diberikan pemahaman tentang FM melalui 8 butir SP, maka butir 9 menyimpulkan pengalaman dan penghayatan mereka dengan anjuran kedua dari surat 1Tes.5:22 di atas. Di latarbelakang anjuran BPS agaknya tersirat bahwa semuanya boleh/harus diuji, tetapi hanya yang baik yang perlu dipegang atau diteladani. Itu berarti bahwa kemungkinan ada pula unsur-unsur yang kurang baik atau kurang cocok untuk diterapkan di tempat lain.

Perkenankanlah saya memberikan beberapa catatan di bawah ini:

1. Di internet saya membaca beberapa pendapat baik yang pro, maupun yang kontra, bahkan yang anti FM. Ada yang menghalalkan sebagai penampakan kuasa Allah, ada yang mengharamkan sebagai kuasa Iblis. Kelompok yang pro hanya mau melihat yang baik-baik saja menurut pendapat dan perasaan mereka atau yang memenuhi keinginan dan harapan mereka pergi ke Meko, entah itu disembuhkan dari penyakit yang diderita, entah untuk melihat mujizat yang diperbuat Tuhan. Hal itupun terjadi di kala Yesus. Orang-orang berbondong-bondong mengikuti-Nya. Yang menjadi ukuran ialah terpenuhinya keinginan manusia. Ingin melihat mujizat, apalagi disembuhkan dan dipulihkan dari penderitaan nyata. Itu sangat manusiawi.

Kelompok pro kurang mampu melihat pekerjaan Tuhan juga melalui ketidaksembuhan fisik, seperti kesembuhan spiritual, pemulihan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia tanpa sekat-sekat buatan manusia. Bukannya hal-hal itu tidak dialami atau tidak diakui, namun keinginan melihat atau mengalami mujizat penyembuhan mendominasi FM. Banyak orang yang ke sana konon tidak mengalami kesembuhan fisik, tetapi pemulihan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia pada umumnya diakui atau bahkan dialami.

2. Kelompok yang anti gerakan Roh di Meko terlalu gampang memberikan cap bahwa FM adalah pekerjaan Iblis, hanya oleh karena penyembuhan yang dilakukan Selvyn dan ibunya tidak dalam nama Yesus. Rupanya pendapat ini datangnya dari orang-orang yang pernah menyembuhkan atau disembuhkan dalam nama Yesus, seperti yang banyak terjadi di KKR-KKR. Namun perlu juga kita ketahui, bahwa Yesus sendiri pernah berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan”. Hal ini diucapkan kepada orang-orang yang menyodorkan jasa/kuitansi kepada Yesus untuk masuk sorga, bahwa mereka sudah berbuat banyak demi nama Yesus. Orang-orang ini tidak dikenal Yesus, tetapi mereka sudah menjadikan “demi nama Yesus” sebagai rumus mantera yang sakti dan berada di luar relasi dengan Yesus. Jadi mereka yang anti FM karena tidak mengucapkan “dalam nama Yesus” harus pula hati-hati sambil mengintrospeksi diri (Mat.7:21-23). Jangan-jangan penolakan terhadap FM berlatarbelakang persaingan.

Saya tidak membela Selvyn dan ibunya, biarlah perbuatan dan sikap mereka sendiri yang membela mereka, sejauh mereka membuka diri untuk menjadi alat Tuhan. Atau mereka tidak perlu dibela, karena kalau Tuhan berkenan menggunakan mereka sebagai alat (medium), maka siapakah yang bisa mencegah mereka? Yang penting bagi orang percaya, bagi Selvyn dan ibunya, ialah apakah kita mampu melihat mujizat itu sebagai perbuatan Tuhan dan dengan demikian bukan Selvyn dan ibunya yang manjadi fokus pemuliaan, melainkan Tuhanlah yang dimuliakan karena kuasa-Nya dan kasih-Nya yang menyembuhkan dan memulihkan.

Cukuplah sudah catatan saya ini dengan merujuk sepenuhnya kepada SP BPS Gereja Toraja. Bertolak dari SP itu maka saya mau mengatakan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” (Gereja Toraja).

3. Masih ada catatan lain sebagai akibat FM. What next? Follow up-nya yang penting.

Dari internet pula saya membaca dalam website BPS Gereja Toraja, bahwa di Rantepao telah diadakan Ibadah Syukur pada tgl. 31 Mei dan 1 Juni 2007 dengan dorongan dan partisipasi BPS (Pdt. Batti’ dan Panggalo). Memang kita harus bersyukur dalam segala perkara, termasuk mensyukuri FM serta akibatnya yang memuliakan Allah. Namun ada banyak hal yang perlu diuji, sehingga yang baik itu dipegang. Itu berarti bahwa tidak semua harus dipegang. Bahkan yang baik di Meko belum tentu otomatis baik di tempat lain. Kebaikannya harus diuji oleh keadaan setempat, spiritual, maupun social-budaya, dsb. Apakah semuanya itu memuliakan Allah?

Pada tgl. 29 April yang lalu saya mendengar khotbah di Rantepao yang menyinggung FM . Mudah-mudahan saya salah tangkap, tetapi yang saya tangkap ialah anjuran kepada jemaat untuk menghadirkan ibadah seperti di Meko yang penuh penyembahan dan penghayatan yang menyentuh. Saya terus terang langsung memikirkan liturgi Gereja Toraja. Muncul berbagai pertanyaan dalam benak saya. Apakah hal itu mungkin dilakukan? Tentu saja mungkin, tetapi apa konsekuensinya? Saya termasuk penggemar musik yang “baik” dan puji-pujian paduan suara Tetapi apakah ibadah yang dilakukan seperti di Meko menjadi ukuran untuk menentukan sebuah ibadah itu sah, baik, berkenan kepada Tuhan, membangun iman jemaat, dsb. Apakah semua ibadah harus sama. Bukankah itu sebenarnya membatasi Tuhan, apakah itu tidak sama dengan orang Israel yang tidak bisa memuji Tuhan di tepi sungai Babel, yang mengurung Yahwe di bait Allah di Yerusalem? (Mzr.137).

Apakah soal-soal kebudayaan tidak ikut berperan di dalam cara kita beribadah? Banyak pertanyaan bisa muncul. Tidak perlu dan tidak bisa disangkal bahwa ibadah penyembuhan di Meko sudah membawa banyak berkat bagi banyak orang, yang disembuhkan secara fisik, maupun yang dipulihkan secara rohani. Tetapi bagaimanakah dengan ibadah-ibadah yang masih tetap menjadikan pelayanan firman Allah sebagai salah satu unsur ibadah yang (ter?)penting, walaupun liturgi adalah satu kesatuan, di manakah tempat doa syafaat, dsb. Di dalam ibadah kita berkomunikasi dengan Tuhan, Tuhan berbicara kepada umat-Nya, umat Tuhan memberikan berbagai respons. Cara manusia merespons sapaan Tuhan melalui firman-Nya dengan cara yang ada hubungannya dengan kebudayaan, dengan emosi, dsb. Di Meko terjadi komunikasi dengan Tuhan melalui kidung-kidung penyembahan, Tuhan merespons dengan kehadiran-Nya dalam bentuk penyembuhan dan pemulihan relasi dengan Tuhan dan sesama manusia.

Gereja Toraja sudah lama mempunyai lima bentuk liturgi/ibadah. Liturgi itupun belum tentu membuat setiap orang yang beribadah dibangun imannya. Bahkan konon jemaat-jemaat pedesaan masih sering dibingungkan. Kini sedang galak-galaknya jemaat-jemaat mengusahakan ibadah yang kreatif. Tentu semuanya itu ingin menjadikan ibadah hidup dan menyentuh, bukan hanya merupakan ibadah yang ritualistis dan sering pula serimonial belaka. Memang masih banyak hal yang perlu diperbarui di dalam kehidupan beriman kita, kehidupan bergereja. Yang penting ialah bagaimanakah caranya kita memuliakan Allah.

4. Mudah-mudahan catatan-catatan saya ini bisa dipertimbangkan untuk tidak terlalu emosional dipengaruhi oleh hal-hal yang relatif. Pasti Tuhan juga tidak mengingini ibadah yang kurang beraturan (1Kor.14:40). Rasul Paulus sangat prihatin tentang keutuhan jemaat Korintus. Itu pulalah hendaknya keprihatinan kita di dalam Gereja Toraja. Roh yang dari atas (Yes.32:15) pasti membarui apa yang perlu dibarui asal kita mau mengikuti-Nya. Veni Creator Spiritus Sanctus! (Datanglah ya Roh Kudus, Pembaru/Pencipta yang membarui).

Th.Kobong
05.06.07.

Postscriptum:
Pagi ini saya membuka internet dan menemukan laporan Pdt. Dr. I.Y. Panggalo tertanggal 5 Juni 2007 mengenai kebaktian syukur tgl. 31 Mei dan 1 Juni di halaman gereja Rantepao serta penampakan di gedung Gereja Katolik di Tikala. Apa yang bisa kita katakan tentang semuanya itu? Pertama, kita bersyukur karena Allah melawat umat-Nya, walaupun dianggap oleh sementara orang, bahwa itu adalah lawatan Iblis, karena tidak alkitabiah, jadi tidak sah. “Sebenarnya, dari indikasi dan gejala-gejala yang muncul, Ini adalah sebuah Fenomena Spiritisme” ( demikian Pdt. DR. Hencoch F. Saerang mengakhiri tulisannya dalam fransnico.wordpress.com, 2007/04/18).

Itu adalah penilaian yang sangat negatif. Saya mendapat pula informasi dari seorang rekan pendeta bahwa di dalam Gereja Toraja sudah ada indikasi ke arah “polarisasi” antara yang pro dan yang kontra. Justru kepada kita diberikan kesempatan untuk memahami diri sebagai gereja. Tumpah ruahnya manusia ke ibadah syukur di Rantepao bisa kita fahami. Memang ada kehausan dan kerinduan mengalami kehadiran Tuhan di dalam kehidupan kita beriman. Mengpa tidak banyak orang ke kebaktian gereja? Mungkin karena di sana kehadiran Tuhan kurang dirasakan. Itu tidak berarti bahwa Tuhan tidak hadir di dalam ibadah-ibadah kita di gereja. Hanya umat-Nya yang mungkin kurang peka melihat dan merasakan kehadiran-Nya. Itulah tugas gereja untuk membina umat agar belajar peka melihat dan merasakan kehadiran Tuhan di dalam ibadah-ibadah dan bahkan bukan itu saja, kita harus peka akan kehadiran Tuhan di dalam kehidupan keluarga dan kehidupan pribadi kita. Itulah tugas pembinaan gereja yang terpenting. Konon FM mampu mempersatukan manusia dari berbagai denominasi di Meko, bahkan dari agama-agama yang berbeda, tanpa menganal sekat-sekat sosial, religius, etnis, bahkan orang-orang dari negara-negara lainpun datang ke Meko. Jadi FM mampu mempersatukan, lalu mengapa justru ada indikasi bahwa Meko bisa menyebabkan hal-hal yang tidak kita kehendaki di dalam Gereja Toraja. Jelas FM kita syukuri secara positif, tetapi harus kritis, kreatif, tetapi juga realistis. Apakah pola ibadah penyembuhan di Meko memang bisa diterapkan begitu saja dalam ibadah-ibadah menurut tradisi kita? Saya termasuk orang yang konservatif, tetapi juga kritis, mungkin tidak kreatif dan sering kurang realistis. Tetapi kalau kita mau membarui, maka sikap positif, kritis, kreatif dan realistis itulah yang harus menjadi pedoman kita dalam ketaatan kepada firman Allah. FM kita syukuri, kita sambut secara positif, tetapi kritis, kita kembangkan secara kreatif, tetapi realistis. Memang itu tidak mudah, tetapi itu tugas dan panggilan.
06.06.07.




KESAKSIAN IBADAH SYUKUR DI RANTEPAO - TANA TORAJA
Puluhan Ribu Jiwa yang HAUS menyambut kehadiran Roh Kudus

Setelah ada persuratan dari BPS ke Gereja2 di Tana Toraja untuk menghadiri Ucapan Syukur atas banyaknya pemulihan dan kesembuhan Jemaat dari penyakit2 fisik dan dan kesembuhan rohani dari MEKO. Hari Rabu sudah mulai dipasang 100 tenda kotak / terowongan di Halaman Geraja Rantepao dan tenda2 tambahan lainnya untuk persiapan Ibdah KKR ini yang dibawakan oleh Rombongan Pdt Damanik ( mantan ketua BPS GKST) yang berjumlah 28 orang dimana ada juga pengkhotbah cilik berumur 8 tahun bernama MOKO , di rombongan ini juga ada Om dan Tante Selvin serta Band yang berasal bukan hanya GKST Tentena tetapi juga dari Bethany dan Pantekosta.

Hari Kamis 31 Mei Ibadah KKR akan dimulai pukul 7 malam akan tetapi orang2 dari segala penjuru Tana Toraja sudah memenuhi halaman Lokasi dari sore hari dan sudah mulai rame memuji Tuhan Bersama dengan lagu2 pujian yang diMeko seperti: Allah Kuasa Melakukan Perkara, Bilur2Nya, Maranatha, Oh Yerusalem, halleluya etc...

Diperkirakan malam itu berkumpul lebih dari 20.000 orang yang datang dari kampung2 pangngala’, Saluputti, Sapan, Sanggalla serta seluruh penjuru Toraja juga dari Sudu, Duri, Enrekang. Setelah memperkenalkan seluruh Rombongannya dari Pdt Damanik mendampingi Khotbah si kecil MOKO benar2 menyampaikan banyak kebenaran Firman Tuhan tentang banyak umat yang tidak percaya adanya Mujizat . Sebelum berkhotbah dengan tegas Moko meminta tali2 rafia yang dipasang membatasi jemaat2 untuk diputuskan dan meminta untuk berbaur karena katanya” Kita semua satu dalam Tubuh Kristus” selain itu anak dari tukang Ojek ini menghafal banyak ayat yang dibantu dibacakan rombongannya , di khotbahnya ada 3 hal yang menjadi penekanan dari anak yang lahir tgl 25 Mei (hari Oiukumene) yaitu :

Kalau kita ingin Sembuh fisik dan Rohani
1. Kita harus menyelesaikan semua masaalah kita dgn siapapun
2. Percaya akan Tuhan Yesus dan Kuasanya.
3. Bertobat.

Khotbah yang dibawakan dengan dialek Sulawesi tengah banyak juga diselingi Joke2 yang bermutu seperti” Kita umat harus apa adanya jangan ada apa2nya. Dia juga mengatakan kalo dia bukan lulusan STT tetapi punya mulut yang sama dengan mulut Pdt yang adalah semuanya diciptakan Tuhan Khotbah semakin menarik karena diantara khotbah sesuai isi khotbahnya Moko beberapa kali langsung berkata ” Band Main” dan Pujian dari puluan ribu orang melantunkan ” Mujizat itu Nyata” ” Sejauh Timur dari Barat”etc.

Ibadah benar2 khusuk dan hanya Doa Bapa Kami yang dinaikkan, setelah khotbah dan orang2 betul2 bersemangat tepuk tangan menyanyikan lagu Allah Kuasa melalukan segala Perkara, dan Bilur2Nya mulai ada yang merasakan kesembuhan dari Tuhan ada beberapa kursi yang dioper ke panggung tanda bahwa ada yang lumpuh / duduk saja sudah mulai berdiri. Malam itu Ibadah selesai dengan berkat dari Pdt Batti jam 22.30 tetapi masih diteruskan dengan puji2an sampai beberapa rombongan menginap di halaman Gereja

Hari Jumat 1 Juni dijadwalkan mulai pukul 10 pagi tetapi orang dari kampung2 dari semua denominasi Pantekosta, Bethany, Tiberias, Katolik, Advent , Aluk Todolo, GT dll serta dari saudara Muslim Tumplek Blek dari Jam 7 pagi memenuhi Semua halaman Gereja, Jalan didepan Gereja Rantepao, Kantor BPS , Gedung Pemuda . Parkiran mobil, truck, motor sampai ke karassik, singki’, lapangan Bakti dan sepanjang jln A.Yani. Diperkirakan yang hadir tidak kurang dari 40.000 orang, diyakini dan saya juga meyakini sejak saya lahir .. inilah kumpulan orang Toraja terbanyak ever.. ( bisa dikonfirmasi ke Pak Acis Tomasoa yang juga hadir) melebihi Toraya Mamali, Pekan Budaya, or Injil Masuk Toraja.

Sebelum Rombongan Pdt Damanik naik ke panggung , Lagu2 Allah Kuasa & Bilur2 terus dikumandangkan sungguh2 berualng-ulang dan benar- benar ada kesembuhan dari Tuhan Yesus.. ada seorang anak kecil perempuan yang bisu sudah bisa menyebutkan Yesus- Yesus, Amin-Amin, ada yang buta sudah bisa tau warna, dan yang lumpuh bisa berdiri, yang Tuli bisa mendengar, Ada anak asuhan RBM PWGT dari Bonoran yang bisu ditanya dan sudah bisa menyebut namanya Upa’ etc. Khotbah Moko hari itu banyak menyindir tentang kita yang ingin lebih besar, populer dan tidak mau seperti anak kecil yang rendah hati, tulus, tidak ada kepentingan, jujur disertai illustrasi katak dan sapi komplit . Dan dengan Gamblang Moko mengingatkan Pemuda2 yang adalah masa depan Bangsa dan Gereja untuk mau aktif melayani serta hidup kudus tidak mabuk-mabukan,judi, sex bebas.Jokenya yang lain karena dia jadi sasaran paparazi foto n kamera Pdt damanik mengatakan Moko jadi seperti Selebritis yang dijawab moko ” Iya Selebritis = Segerombolan Brimob dan Perintis”

Setelah isirahat untuk makan or buka bekal yang dilanjutkan Puji2an dan semakin banyak kesembuhan fisik dan rohani. Sekitar pukul 4 , kami melantunkan lagu ”Mampirlah dengar doaku Yesus Penebus” yang diuang- ulang penuh penghayatan dan semua tangan diangkat( tidak ada lagi yang malu2) banyak yang menangis minimal berkaca-kaca untung saya pake sunglases J

Yang membuat bulu kuduk saya berdiri Tiba2 dari depan panggung ada pelangi yang oleh Pdt Damanik dikatakan Tanda bahwa Tuhan benar2 hadir dan memberkati kita saat ini disini.. tapi yang benar2 bikin saya takjub , setelah Pdt Damanik ngomong.. Tuhan menjawabnya dengan hujan rintik2( Hujan berkat) selama 2 menit tanda Ia benar2 hadir kemudian langit diatas terang kembali.. Padahal Hujan deras diluar daerah tersebut di daerah Rura red. Setelah mulai sore ada yang pulang mandi / makan .Saya sebenarnya tidak percaya tanda2 atau sign tapi sore itu sekitar jam 6 Kami melihat dilangit persis di Atas Gereja dan lokasi itu ada awan panjang lurus pajang berwarna marah / orange ( seperti manuver pesawat jet tempur F16 yang keluar asapnya) beberapa saat tanda kalau benar2 Tuhan hadir dan memberkati.

Saya hanya kembali ambil jaket dan makan malam di tenda kemudian dilokasi dilanjutkan kembali Puji2an dan 2 hari itu juga diajarkan juga lagu Perdamaian oleh Pdt Damanik( Pernah dipenjara karena konflik di Poso) yaitu Syalom2 Indonesia penuh Damai diganti Syalom2 Tana Toraja penuh Damai. Malam itu lagu melalui lagu Amin2 banyak yang menjadi disembuhkan dari Tuhan dan disyukuri dengan lagu Haleluya kepada Tuhan Yesus. Jam 8 Malam kembali Pdt Damanik menceritakan awal Mujizat di Meko seperti yang sudah banyak kita baca dari internet Transkip interviewnya dengan CBNC.

Sampai jam 11 malam \masih saja terjadi mujizat, dan ibadah benar2 berhenti jam 12 malam. Pdt Damanik ( yang mengudurkan diri dari ketua Sinode karena Tibo Cs dieksekusi, ”bagaimana saya mau memenuhi janji saya kepada Tuhan kalo kepada manusia saja tidak bisa”) selalu mengatakan tidak lama lagi Selvin akan hadir disini, sama seperti kemana Moko pergi KKR biasanya disaerah tsb Selvin akan datang. Pdt Panggalo yang berjalan keliling larut dengan umat mengatakan mari kita Doakan Selvin bisa datang pada Pekan Spiritualitas Gereja Toraja 24 Juni- 2 Juli 2007 disini. Bahkan kalau saja KKR kemarin diteruskan sampai hari Minggu Rombongan yang lebih banyak lagi akan datang dari Makassar akan tetapi hanya 2 hari. Satu Kesaksian lagi anggota Bandnya Moko yang keliling Lokasi malam itu meyakini tempat ini juga diberkati seperti di Meko karena 2 hari itu benar2 di Lokasi ini tidak ada yang merokok/ menahan untuk tidak merokok. Benar2 sejarah semua masyarakat dari kampung2 yang terpencil, anak kecil, pemuda, lansia larut bersama tepuk tangan memuji Tuhan dengan sungguh. Kita berharap Tana Toraja semakin diberkati dan penyakit sosial masyarakat dihilangkan, penyakit2 fisik dan rohani dipulihkan, budaya yang berlebihan yang memuliakan manusia diubah untuk kemuliaan Tuhan.

Masih banyak lagi kesaksian2 yang lain semoga VCD nya cepat beredar untuk kita lihat bersama. Foto2 dan file 3GP nya ada disaya tapi bandwith internet di Toraja masih kecil jadi lama kalau Upload dan saya blm tau caranya kompres 3Gp.

Dan apabila ada dari anggota milist yang ingin pulkam bisa ikut berpartisipasi dalam pelayanan Pekan Spiritual GT yang selain KKR juga yang akan turun ke desa-desa pengobataan Gratis dari Dokter2 dan Pembagian Alkitab .

Salah satu yang hadir dari 40.000 0rang
Yaya’ Rundupadang



Penampakan Salib di Gereja Katolik Tikala Toraja

Bongi Melo sang Torayaan,

Mau berbagi info saja sedikit kalo di kampung kita Toraja saat ini ada lagi fenomena Salib yang muncul berbetuk bayangan2 warna putih bersinar dan muncul secara sporadis di sekeliling Salib kayu warna coklat yang berukuran kurang lebih 60 cm x 30 cm ini, biasanya salib putih itu muncul berlapis yang saya lihat sendiri kalo benar-benar konsentrasi dan berdoa sebelumnya. Ada juga orang yang melihat Bunda Maria, Alkitab di dekat salib itu dan banyak kesaksian juga yang melihat dari Salib itu dilingkari sinar merah keemasan beberapa detik, sampai banyak pengunjung yang berteriak ketika melihat lagi penampakan ini dan menunjuk2 serta minta2 ampun sambil memuji Tuhan.

Hal ini mulai Muncul setelah Ibadah hari Minggu kemarin tetapi hanya beberapa yang melihat, tetapi hari ini dari siang sudah mulai banyak yang menyaksikan, bahkan ada 5 orang anak kecil yang tadi sore sekitar jam 5 yang melihat sangat Jelas.

Lokasinya di Gereja Katolik Tikala Pa’uluasu diatasnya Puskemas. Saya kesana sore tadi sekitar jam 6 Sore dan sudah penuh sesak orang di Gereja yang nonstop melagukan Pujian2 / Kidung Rohani dari Meko, saya sempat melihat Salib2 Putih Transparan itu muncul seperti bayangan di sekitar salib kayu Yang berwarna Coklat tapi sudah mulai kemerahan beberapa saat kalau Lampu dimatikan, Tetapi ada yang melihat lebih Jelas bahkan ada yang sempat foto salibnya separti ada apinya,

Seperti biasa ada pro kontra akan hal ini dan banyak juga yang datang tapi hanya melihat salib kayu saja.

Saat saya pulang jam 9 Malam Jalanan sudah Macet Total sama seperti waktu Toraja Mamali, sejauh 3 km dari Arah Lokasi di Paulu Asu persimpangan Seriale sampai ke Jln masuk Smu Barana’ , ini dikarenakan karena sudah ribuan orang yang kesana dan Memarkir Mobill/ Motor tidak teratur. Saya pulang Jalan kaki sampai Jalan ke Sma Barana’ kemudian naik Sitor ke Rantepao. Sampai saat saya menulis email ini rombongan saya masih di mobil yang terjebak macet.

Sudah banyak Pdt yang kesana seperti Pdt Abatros Palilu dan Majelis Gereja Toraja Jem Rantepao. Di Halaman Gereja begitu banyak orang yang saling menukar hasil foto via Blootooth, dan sepanjang jalan orang yang baru kesana dan yang pulang terus menyanyikan Lagu2 dari Meko. Apakah arti dari hal ini semua ? Ada yang bisa memberikan Pencerahan?

Kalo ada yang mau analisa fotonya nanti saya kirimkan format aslinya or ada yang forward ke Roy Suryo ?

Yaya’ Rundupadang



KESAKSIAN SEORANG HAMBA TUHAN - Bpk. Pdt. DR. I.Y. Panggalo STh. - Sekum BPS Gereja Toraja.

Salam kasih untuk semua!

Semoga kita semua berada dalam keadaan sejahtera karena kasih Tuhan Yesus Kristus!

Dua informasi ingin saya bagikan:

Pertama: Pada hari Kamis dan Jumat (31 Mei dan 1 Juni 2007) minggu lalu BPS Gereja Toraja, dengan meminta Jemaat Rantepao sebagai Tuan-Nyonya Rumah, melaksanakan Ibadah Pengucapan Syukur kepada Tuhan karena karunia-Nya atas sebagian warga Gereja Toraja melalui penyembuhan dan pemulihan yang Tuhan lakukan di Meko melalui hamba yang dipilih-Nya sendiri, Selvin dan Ibunya (bnd. Suara Penggembalaan) . Tanggal 31 Mei, mulai sore hinga malam, berkumpul sekitar 20.000 orang. Angka itu ditaksir berdasarkan kolekte yang secara spontan (tidak diaktakan) dikumpul umat. Lembaran 1.000an yang terkumpul, lebih dari 19.000. Sedangkan cukup banyak orang yg tidak tahu dan karena itu tidak memberikan persembahan dalam ibadah malam itu. Pada hari Jumat, 1 Juni 2007, acara ibadah dilakukan mulai pagi hingga malam. Peserta ibadah diduga dua kali lebih banyak daripada hari sebelumnya. Ada yang menyebut angka di atas 50.000 orang. Jumlah peserta ibadah ini menurut saya luar biasa. Selain peserta ibadah dari lingkungan Gereja Toraja sendiri, hadir juga warga dari gereja2 lain, termasuk teman-teman dari agama lain. Dalam ibadah dua hari itu, yang dapat saya saksikan ialah bagaimana puluhan ribu umat Tuhan itu menyatu dan melarut dalam kebersamaan menyembah dan memuji Tuhan. Penuh semangat, sukacita, dan spontanitas. Sepertinya mereka tidak mengenal lelah dan tidak ingin berhenti.

Hari pertama direncanakan ibadah akan dimulai pk. 19.00. Kenyataannya, baru pk. 15.00 orang sudah mulai secara spontan dan tidak berhenti sampai malam. Hari kedua, direncanakan pk. 10.00, tetapi baru pk. 06.00 orang sudah mulai ibadah sendiri. Ibadah ini berjalan sangat spontan dan dinamik.

Apa yang dipersiapkan oleh pelaksana tidak dapat sepenuhnya diikuti. Saya percaya bahwa Tuhanlah yang memiliki dan mengatur acara ini.

Pada hari Minggu, 27 Mei 2007, Pak Acis mengirim sms berupa saran kepada pelaksana melalui saya, meminta, biarkanlah Tuhan yang memiliki acara ini. Janganlah ada orang yang mau muncul menonjolkan dirinya sendiri. Saya mengaminkan bahwa saran Pak Acis ini benar-benar telah terjadi dalam ibadah selama dua hari di halaman gedung Gereja Toraja Jemaat Rantepao itu.

Pdt. Rinaldy Damanik, Moko (dianggap peserta ibadah sebagai pengkhotbah cilik), dan anggota rombongan TIM KKR Moko dari Tentena, telah menjadi alat yang memerlihatkan kerendahan hati melayani Tuhan dan umat-Nya. Penyembahan, pujian, dan doa yang lahir dari hati puluhan ribu umat yang menyatu dan melarut dalam ibadah itu sungguh telah mengesankan. Allah berkenan merahmati dan memberkati umat-Nya yang menyembah-Nya dengan kebulatan dan kesungguhan hati.

Dalam ibadah hari kedua, baik waktu pagi, siang, maupun malam (ada waktu istirahat untuk makan siang dan makan malam) Tuhan berkenan memberikan kesembuhan dan kepulihan.

Ada orang buta yang menyatakan diri telah dapat melihat; ada orang-orang lumpuh yang menyatakan diri telah sembuh karena merasa telah mendapat kekuatan dari Tuhan untuk bisa berjalan sendiri tanpa bantuan (meninggalkan kursi roda dan tongkatnya); ada orang-orang bisu yang dapat mengucapkan kata-kata yang menurut keluarganya belum pernah bisa diucapkan sebelumnya, dll. Oleh karena peristiwa kesembuhan ini sungguh-sungguh terjadi spontan, tidak diduga sama sekali, maka tidak semua yang merasa telah mengalami kesembuhan dapat didata.

Saya sendiri hanya dapat mencatat identitas seorang Ibu yang menurut anaknya sudah lebih dari 20 th lumpuh dan sangat bergantung kepada bantuan orang lain. Kepada kami, Ibu itu bercerita bahwa sudah banyak uangnya habis untuk berobat ke dokter di Rantepao dan di Makassar dan tidak ada perubahan. Sudah pernah juga ke meko, memang mengalami perubahan sedikit. Tetapi malam itu, tanggal 1 Juni 2007, menurut penuturannya, beliau mengalami kesembuhan. Saya menyaksikan bagaimana Ibu itu sudah berjalan secara normal sendirian dari halaman Jemaat Rantepao menuju mobil di halaman Kantor Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja yang akan mengantarnya pergi menginap di rumah keluargnya di daerah Malango’.

Selain itu, sebuah kursi roda yang masih bagus, sekarang ini tersimpan di Kantor Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja, ditinggalkan oleh pemiliknya yang merasa telah disembuhkan Tuhan pada tanggal 1 Juni itu.

Mungkin istilah yang cocok untuk peristiwa ini adalah KESEMBUHAN, karena terjadinya spontan dan bukan atas rencana dan kekuatan manusia. Ini tentu berbeda dengan yang secara sengaja direncanakan dan diumumkan jauh-jauh hari sebelumnya sebagai PENYEMBUHAN ILAHI. Menurut saya, penyembuhan Ilahi tidak pernah bisa direncanakan dan disengajakan. Tuhan Yesus tidak pernah mengumumkan sebelumnya suatu rencana penyembuhan, karena Tuhan Yesus sendiri sangat memusatkan Diri pada Kehenndak Bapa-Nya, bukan pada kehendak-Nya sendiri. Allah dapat menyembuhkan kapan saja, siapa saja, di mana saja, penyakit apa saja, sesuai kehendak-Nya sendiri. Dan ini tidak bisa direncanakan dan disengajakan oleh manusia. Oleh karena itu, melalui apa yang terjadi pada dua hari ibadah di halaman Jemaat Rantepao itu, semata-mata Allah-lah yang patut diagungkan dan dimuliakan.

SYUKUR KEPADAMU, YA ALLAH, KARENA ENGKAU TELAH MENYATAKAN KUASA DAN KASIHMU KEPADA UMATMU pada hari-hari itu!



Kedua: Sejak hari Minggu (3 Juni 2007) yang lalu, dalam gedung Gereja Katolik di Tikala, orang datang menyaksikan penampakan melalui salib.

Menurut informasi-informasi dr orang-orang yang kembali dari sana , tiap orang mempunyai pengalaman yg berbeda-beda. Ada yang melihat cahaya keluar dari salib yang terpasang di bagian atas dinding belakang mimbar; ada yg melihat bayangan salib bercahaya dan bergerak/berpindah- pindah; ada yang melihat wajah mirip gambar Tuhan Yesus yang bermahkota duri; atau gambar Tuhan Yesus dalam posisi berdoa; ada yang melihat pelangi; ada yang melihat kilatan cahaya terang benderang, dll. Ada juga yang tidak melihat apa-apa selain fisik salib yang memang terpasang di situ. Karena berita itu menyebar sejak kemarin pagi baik melalui sms, telepon, maupun tv kabel di Rantepao, maka mulai sore hingga malam hari luar biasa banyaknya orang yang datang ke sana .

Karena banyaknya orang, tadi malam itu sekitar jam 2 subuh baru orang bisa kembali karena kendaraan begitu padat dan macet. Sulit bergerak. Sekitar jam 20.30 tadi malam, bersama Pdt. A. Kabanga’ dan Pdt. Albatros Palilu, saya pun coba ke sana. Kedua bapak itu berhasil sampai di lokasi. Saya ambil keputusan untuk tidak terus ke lokasi dan kembali saja karena saya merasa keadaan sangat gelap dan jalanan begitu padat dengan kendaraan (sitor, mobil, dan motor) dan manusia. Dalam perjalanan untuk kembali, saya bertemu dengan Pdt. Sulaiman Manguling yang baru datang dengan keluarganya. Atas saran saya, mereka segera putar mobil dan kami sama-sama kembali ke Rantepao.

Kami mendapat informasi bahwa di Astrama Elim, di tempat Pak Anto Pali’, kami mampir menyaksikan foto-foto yang sempat beliau ambil sore harinya. Kami memeroleh kesan tertentu dari foto-foto itu. Hari ini, bahkan sampai malam ini, masih banyak orang datang ke sana.

Walaupun penglihatan dan kesan dari tiap orang yang datang ke sana itu yang beraneka ragam, termasuk mereka yang tidak merasa melihat sesuatu yang aneh, saya dapat menyimpulkan bahwa sungguh-sungguh ada sesuatu yg terjadi di sana. Orang bertanya, apa maksud Tuhan dengan fenomena semacam ini?

Ada informasi yang dapat dianggap sebagai peringatan untuk waspada dari teman-teman di Sulawesi Tengah dan juga dari Ambon. Berdasarkan pengalaman mereka pada masa lalu, tanda-tanda sejenis itu terjadi juga di beberapa gedung gereja pada kedua wilayah itu beberapa saat sebelum pecahnya kerusuhan. Informasi ini bukan bermaksud menakut-nakuti, tetapi sekadar mewaspadakan.

Semoga kedua informasi ini bermanfaat.

Salama’,

I.Y. Panggalo



SEBUAH KESAKSIAN dan PERJALANAN KE MEKO

dear sang torayan,

di bawah ini saya berbagi apa yang saya alami dan lihat sendiri di desa meko. semoga menjadi berkat bagi kita semua.

minggu lalu saya baru dari desa meko. saya melihat sendiri bagaimana Allah menyatakan kasihNya lewat kesembuhan begitu banyak orang.sebelumnya, saya tidak menyangka akan menjumpai situasi seperti itu. saya berangkat ke meko berdasarkan sepotong informasi via sms tentang seorang anak di tempat saya yang saya ketahui buta sejak lahir, tapi telah melihat karena mengalami penyembuhan di desa meko. pada saat itu, saya sedang sibuk2nya jadi tidak sempat melirik ke milis ini, jadi tidak tau juga kalau mujizat meko sudah diposting di milis ini. cukup mengherankan bagi saya kemudian, bahwa tiba2 saja saya memutuskan berangkat ke meko, hanya dengan sebuah sms (satu sms, bukan beberapa sms!). hari itu juga saya pesan tiket untuk keesokan harinya ke Palu, padahal saya belum mengajukan cuti di kantor. saat mengajukan cuti lewat telp, ajaib juga, atasan saya langsung mengabulkan, tanpa banyak tanya, padahal aturan main di tempat kerja saya, cuti diajukan minial satu bulan sbelumnya. ini cuma satu hari sebelumnya! urusan cuti beres, ternyata flight penuh semua! tapi saya tetap tenang. sore hari, saya dapat kabar, ada pembatalan, tersedia satu tiket untuk ke Palu keesokan harinya.

Tanggal 4 April, malam hari, saya tiba di Palu. Ini perjalanan saya yang pertama ke wilayah Sulawesi Tengah. Rencananya saya lgsg ke tentena malam itu, tetapi karena cuaca buruk, penerbangan sempat diundur bbrp jam, sehingga sampai di Palu pada pukul 21.20, padahal bis terakhir ke tentena berangkat 21.00. Akhirnya kamis, tanggal 5 April, 10.00 saya meninggalkan Palu menuju tentena. Sampai di terminal tentena sudah sore, angkutan terakhir ke meko sudah berangkat, tapi tidak jadi masalah karena cukup banyak ojek tersedia di terminal tentena ke meko.

Mendung menggayut di tentena dan sekitrnya, tampaknya akan hujan deras. dan memang demikian, di perjalanan kami dihadang hujan deras. berhenti berteduh sambil ngobrol dengan bapak ojek. ternyata ada hikmahnya juga. bapak ojek menyatakan pandangan2nya yang sangat menguatkan mengenai mujizat meko. dalam guyuran hujan kami nekad meneruskan perjalanan karena kalau menunggu hujan berhenti, entah jam berapa baru dapat mencapai meko. menyusuri jalanan kecil, berliku, naik turun, sepanjang pinggiran danau poso, udara sangat dingin, tapi tidak ada penyesalan! beruntung semua bawaan saya packing dengan plastik sebelum dimasukkan tas, jadi bisa dipastikan tidak akan basah.

sebelum memasuki meko, bapak ojek mangajak singgah di rumah adiknya, untuk ganti pakaian, karena basah kuyup, sementara menurut beliau akan sulit bila ganti pakaian di meko, sudah ribuan orang! setelah menikmati kopi panas, kami melanjutkan menuju meko. dan sesampai di meko saya mendapati situasi yang begitu "riuh". begitu banyak mobil, begitu banyak orang, begitu banyak tenda, begitu banyak warung, hujan, berlumpur, becek, tapi suasananya begitu damai... saya sebenarnya membawa tenda yang praktis untuk dipasang, tetapi mengingat saya tiba malam hari, dalam keadaan hujan deras, cukup sulit untuk mencari lokasi dimana saya bisa memasang tenda saya, karena tenda sudah ada dimana-mana... Akhirnya, dengan bantuan bapak ojek, saya bergabung dengan tenda serombongan orang dari tentena. ternyata tidak cuma saya orang lain yang bergabung, sebelumnya dalam tenda sudah ada seorang ibu dan anaknya dari luwuk, dua orang bapak dan anaknya dari toraja, dan 2 ibu muslimah. jadilah satu tenda itu diisi oleh sekitar 20 orang! penuh sesak, tapi malah hangat, dalam udara dingin.

seharusnya saya lelah, setelah menempuh perjalanan darat hampir 8 jam, kehujanan pula! tapi tidak, kami langsung bernyanyi2 dalam tenda. dan pemandangan mengenaskan dimulai. begitu banyak orang sakit lalu lalang di depan tenda kami, mereka semua menuju ke balai desa atau halaman rumah Selvi, yang menjadi sentral puji2an. logika saya, dalam siraman hujan, tengah malam begini, seharunya orang sakit tidak berkeliaran di luar, makin parah nantinya! tapi tidak, wajah2 penuh harapan baik dari ybs maupun yang membawa, semua tumpah ruah berusaha gabung dengan yang lain2 untuk memuji Tuhan. malam itu, berkali-kali terdengar sorak-sorai, menandakan terjadi lagi kesembuhan. pujian terus dikumndangkan sampai pagi: jum'at agung.

jum'at agung, penjamahan dimulai. ibunda selvi mulai menjamah setiap yang hadir sejak jam 07.00, baik di depan rumahnya maupun berjalan dari tenda ke tenda. estimasi saya ada puluhan ribu orang yang hadir saat itu.Ibunda selvi menganjurkan untuk setiap yang sudah dijamah atau yang menunggu giliran untuk menuju ke gereja yang ada di meko, melakukan perjamuan kudus yang diadakan gereja dalam rangka jum'at agung. setelah beristirahat selama 2 jam, penjamahan dilanjutkan kembali dari jam 14.00 sampai selesai malam hari, sekitar 20.30! yang lumpuh berjalan, buta melihat, bisu bicara, gila mulai tenang bahkan mulai memuji Tuhan! itu yang terlihat secara fisik, belum lagi yang sembuh dari penyakit dalam. mengiringi ibunda selvi, terlihat juga Pdt. Rinaldy Damanik, mantan Ketua Sinode GKST (wawancara eksklusif dgn beliau sdh diposting jg di milis ini).

saya cuma termangu. diri begitu kecil, dihadapan Allah yg begitu berkuasa. sabtu pagi, 7 april setelah ibadah pagi saya meninggalkan meko menuju toraja, memanfaatkan sisa cuti.

rabu, 11 april 2007, untuk yg kedua kalinya saya kembali ke meko, kali ini saya berangkat dari toraja. dan lagi2, saya menyaksikan Allah bekerja luarbiasa. dalam tenda kami, pada jum'at pagi, 13 april 2007, sebelum penjamahan mencapai tenda kami, 3 orang lumpuh telah berjalan! kursi roda-pun ditinggal di meko. seorang yang saya kenal, diharuskan mengkonsumsi obat seumur hidupnya, dan sudah 4 tahun dia menjalani hal tersebut, setiap hari. sehari tidak mengkonsumsi obat, akan mengalami kram. sampai saya berpisah dengannya di makassar karena berbeda daerah tujuan selanjutnya, sudah lebih seminggu tidak minum obat, dan tidak terjadi apa-apa. sembuh. lagi-lagi terjadi begitu banyak kesembuhan.

bagi saya pribadi, lawatan Allah di meko, selain menyentuh jasmani, ada yang lebih dalam dari itu : menyembuhkan jiwa dan rohani. beberapa orang terdekat berhenti merokok. gereja toraja jemaat palato, sa'dan dimana saya hadir beribadah, penuh sesak, bahkan ada yang berdiri karena bangku penuh, termasuk yang di balkon, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. jemaat yang baru pulang dari meko bersaksi dengan menaikkan puji2an, spontanitas, tanpa latihan sebelumnya, yang tidak muat untuk berdiri di depan, berdiri di tempat masing-masing, bersama-sama memuji Tuhan. seorang nenek2 setelah dari meko mengumpulkan anak2 SD sekitar tempat tinggalnya, dan dengan suara pas-pasan mengajari mereka lagu-lagu rohani! semula saya pikir nenek tersebut yang minta diajari, ternyata sang nenek yang mengajarkan pujian. waktu saya tanya kenapa mengajari anak2 kecil lagu2 rohani, dijawabnya dengan muka serius: kan nakua Puang Matua, male komi umpatale' sukaran aluk-Ku (kira2 terjemahannya: Tuhan berkata, pergilah kamu menyebarkan injilKu). sentuhan-Nya pada pribadi-pribadilah yang mampu membuat perubahan yang begitu fenomenal. terakhir saya kembali ke toraja akhir 2005, ketika saya bandingkan dengan kepulangan saya april 2007 ini, maka di toraja, setidaknya di lingkungan saya berada, sangat berbeda, sukacita, damai, kesatuan jauh lebih terasa. sangat menyenangkan!!

Apabila diberi kesempatan, saya masih ingin kembali ke meko, desa kecil, yang bagi saya merupakan surganya dunia! mudah-mudahan banyak di antara kita yg juga tergerak ke meko. bukan untuk apa-apa. selain untuk mengalami sentuhan-NYA bagi : tubuh, jiwa, roh kita masing2. dan akhirnya, benar dan amin:

Allah kuasa melakukan segala perkara! diberi kesempatan mengalami lawatanNYA,
-imaji-



 USIA SENJA, SIAPA TAKUT? USIA SENJA, SIAPA TAKUT?

HIDUP SETIAP HARI

Bacaan : Amsal 15:13-31



Ketika Tamer Lee Owens merayakan ulang tahunnya yang ke-104, ia berterima kasih atas "tawa, Tuhan, dan hal-hal kecil" yang membuatnya bertahan hidup. Wanita itu masih dapat menemukan sukacita setiap hari dengan mengobrol, berjalan-jalan, dan membaca Alkitab seperti yang telah dilakukannya sejak kecil. "Saya tidak tahu berapa lama lagi Dia mengizinkan saya tinggal di sini," katanya. "Saya hanya bersyukur kepada Tuhan atas semua yang diberikan-Nya kepada saya."

Kebanyakan orang tidak mencapai usia 104 tahun, tetapi kita dapat belajar dari Tamer Lee bagaimana cara menikmati setiap hari yang diberikan kepada kita.

Tawa -- "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat" (Ams. 15:13). Kebahagiaan sejati dimulai jauh di lubuk hati kita dan terpancar di wajah kita.

Tuhan -- "Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan" (ay. 33). Jika Allah menjadi fokus utama hati kita, Dia dapat mengajarkan jalan-Nya kepada kita melalui setiap pengalaman hidup.

Hal-hal Kecil -- "Lebih baik sepiring sayur dengan kasih daripada lembu tambun dengan kebencian" (ay. 17). Memelihara hubungan yang penuh kasih dan menikmati hal-hal mendasar dalam hidup jauh lebih penting daripada kekayaan dan kesuksesan.

Tidak semua orang akan hidup hingga usia lanjut, tetapi kita dapat menjalani hidup dengan baik setiap hari -- melalui tawa, Tuhan, dan hal-hal kecil --DCM

Dunia ini penuh dengan kebaikan --
Hal-hal kecil yang mendatangkan kesenangan --
Namun Kristus memenuhi hidup kita dengan sukacita
Yang melampaui segala harta dunia. --Sper



Pada umumnya, semua manusia ingin panjang umur, tetapi sedikit yang mau menjadi tua. Itulah salah satu penyebab bertumbuhnya salon-salon kecantikan atau pusat-pusat kebugaran yang menawarkan harapan untuk melawan kodrat.

Namun, betapa pun manusia mampu memanipulasi penampilan jasmaniah sehingga tampak lebih muda dari usia yang sebenarnya, pergumulan batiniah tetap tidak bisa disembunyikan.

Oleh karena itu, setiap orang sebaiknya mempersiapkan diri guna menyongsong usia senja yang pasti datang menjelang, entah esok atau lusa.

Memelihara Kesehatan

Salah satu masalah serius yang dihadapi oleh seseorang di usia tengah baya adalah kesehatan. Pada usia ini banyak orang mulai terserang bermacam-macam penyakit, seperti jantung, kencing manis, kerapuhan tulang (osteoporosis), peradangan sendi (osteoartritis), kanker, ginjal, dll.

Dari segi anatomi, tubuh manusia diibaratkan sebuah sistem yang terdiri dari ribuan komponen yang dirangkai sedemikian rupa. Setiap komponen bekerja sesuai dengan karakteristiknya sehingga membentuk dan mengaktifkan fungsi tubuh.

Pada usia tengah baya, tentu ada bagian-bagian tertentu dari tubuh seseorang yang mengalami kemunduran fungsi (degradation of function) sehingga ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi tubuhnya yang tidak sebaik ketika masih berusia dua puluh tahun. Sebetulnya, setiap hari seseorang harus menyesuaikan diri dengan "situasi dan kondisi tubuhnya yang baru".

Seorang tengah baya sangat perlu memelihara tubuhnya agar senantiasa sehat dan bugar. Memelihara kesehatan dapat dilakukan dengan cara rajin berolah raga, mengonsumsi makanan berserat, banyak makan sayur dan buah, dan waktu tidur yang cukup. Tujuan memelihara kesehatan bukan untuk memuliakan tubuh melainkan untuk memancarkan kemuliaan Kristus, "Kami senantiasa membawa kematian Yesus dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami" (2Korintus 4:10).

Perubahan Karier, Emosi, dan Rohani

Masalah umum bagi setiap orang tengah baya adalah "perubahan". Mengapa? Karena pada usia inilah terjadi transisi secara fisik, emosi, relasi, bahkan rohani. Usia tengah baya adalah waktu ketika seseorang mulai mengevaluasi siapa dirinya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Allah. Banyak orang di usia tengah baya yang menghadapi masalah dengan karier sehingga harus mempertimbangkan memulai karier baru.

Beberapa di antaranya terpaksa mengubah karier karena tidak diinginkan lagi oleh perusahaan sehingga disingkirkan secara halus, penutupan perusahaan, promosinya dialihkan kepada orang lain, menghadapi kejenuhan, konflik, masalah kesehatan, dan lain-lain.

Salah satu risiko terbesar di usia tengah baya adalah menjadi terikat untuk bekerja, memasuki karier terlalu dalam sehingga mengabaikan kesehatan, keluarga, dan Allah. Tidak semua orang siap menghadapi perubahan karier di usia tengah baya. Banyak yang stres dan kehilangan keseimbangan sehingga tidak lagi mampu menikmati hidup.

Contoh yang menarik adalah bagaimana Yesus mempertahankan keseimbangan kritis antara yang mendesak dan penting. Yesus selalu tepat waktu dan selalu menemukan waktu yang tepat untuk melakukan hal-hal yang utama.

Tuhan Allah menciptakan manusia dengan emosi. Dan emosi manusia berubah-ubah sesuai dengan usianya. Pada usia tengah baya, emosi yang paling menonjol adalah depresi, kesedihan, kemarahan, kesepian, kekhawatiran, ketakutan, dan kecemasan. Dengan bertambahnya usia seseorang, semakin banyak tantangan jasmani yang harus dihadapi sehingga semakin banyak pula kebutuhan untuk berjalan dengan Tuhan.

Kedekatan dengan Tuhan akan membuat seseorang lebih sehat dibandingkan dengan orang yang jauh dengan Tuhan. Namun, kedekatan dengan Tuhan tidak selalu berjalan mulus. Unsur dominan yang sering kali menganggu kedekatan hubungan seseorang dengan Tuhan adalah materialisme (Mat. 6:19-21) dan sikap hidup yang berpusatkan pada diri sendiri (Flp. 2:3-4).

Manusia juga harus memiliki sikap realistis terhadap dunia ini, dengan tidak membiarkan harapan-harapannya tentang masa depan membutakannya terhadap kenyataan-kenyataan hidup. Seseorang harus terus-menerus menjaga kesehatan spiritualnya dengan Tuhan. Perlu beristirahat, artinya pergi menyendiri dengan membaca Alkitab, berdoa, dan saat teduh dengan Tuhan.

Kadang-kadang seseorang terlalu sibuk memerhatikan orang lain yang menuntut perhatian sehingga mengabaikan Tuhan yang seharusnya mendapat perhatian penuh. Pastikan waktu tertentu setiap hari untuk menyendiri dan bersekutu bersama Tuhan.

Hubungan yang paling utama dalam hidup manusia adalah saling mengasihi. Pada usia tengah baya tidak ada kehilangan yang lebih besar daripada kehilangan pasangan hidup. Perubahan-perubahan hubungan tengah baya dapat terjadi oleh karena kehilangan pasangan, perubahan dalam hubungan pernikahan, konflik-konflik dalam keluarga dekat dan keluarga besar, dan berkurangnya kepekaan panca indera.
Hal ini sering kali membuat seseorang menarik diri dari lingkungan sosial. Seharusnya, persahabatan dibina berdasarkan kasih tak bersyarat.

Pertanyaan yang sering diajukan orang-orang Kristen adalah apakah perlu mempunyai tabungan hari tua, polis asuransi, atau pensiun.

Banyak yang merasa semuanya tidak perlu karena dengan memiliki tabungan hari tua, pensiun, atau polis asuransi seolah-olah tidak percaya kepada pemeliharaan Tuhan. Bukankah Allah memelihara burung-burung di langit yang tidak menanam dan menuai (Mat. 6:26)?

Sebenarnya, mempunyai tabungan atau memiliki polis asuransi bukan berarti tidak percaya kepada pemeliharaan Tuhan, melainkan tindakan penatalayanan sumber daya dengan baik.

Hidup dengan Orang Tua

Keluarga tengah baya harus merencanakan tempat tinggal di usia senja dengan baik, misalnya apakah tinggal di rumah sendiri, ikut keluarga, atau tinggal di panti jompo. Semua pilihan disertai kelebihan dan kekurangannya. Tinggal di rumah sendiri berarti memiliki kebebasan, kenyamanan batin, dan keakraban. Tinggal dengan keluarga, berarti menjadi tergantung pada dukungan keluarga dan pendirian kita.

Sedang tinggal di panti jompo dapat menimbulkan persoalan sosial budaya yang rumit.

Pada umumnya, orang lanjut usia di Indonesia lebih banyak tinggal dengan keluarga. Merupakan kehormatan bagi anak-anak jikalau orang tua mau tinggal bersama-sama dengan keluarga mereka.
Kebanyakan keluarga di Indonesia beranggapan bahwa orang tua yang tinggal di panti jompo kurang terhormat. Ada perasaan seperti membuang orang tua.

Padahal tinggal di panti jompo mungkin jauh lebih baik dari pada tinggal dengan keluarga.

Tidak kalah pentingnya adalah membuat surat wasiat ketika berada pada usia tengah baya. Tujuannya adalah untuk menghindarkan pertengkaran yang mengakibatkan perpecahan keluarga setelah seseorang tidak ada lagi di tengah-tengah keluarga. Ini juga menyangkut segi-segi perwalian, undang-undang, hak, dan waris dari semua yang ditinggalkan.

Banyak orang tua yang telah lanjut usia terserang penyakit alzheimer, suatu jenis penyakit yang melumpuhkan fungsi otak.

Oleh karena itu, penyakit ini adalah momok bagi setiap orang berusia lanjut.

Berbeda dengan organ tubuh lain yang dapat diamati dalam keadaan sedang bekerja, otak manusia tidak mungkin dianalisa ketika orang tersebut masih hidup. Penyakit ini tidak bisa disembuhkan.

Oleh karena itu, baik penderita maupun orang yang merawatnya sering kali mengalami stres berat. Apalagi kalau alzheimer tersebut sudah berada pada stadium lanjut. Namun, apa pun yang terjadi, seorang anak diwajibkan oleh Tuhan untuk merawat orang tua.
Perintah Tuhan Allah jelas kepada setiap orang:
"Hormatilah ayahmu dan ibumu" (Ul. 5:16).

Menjadi Tua, Siapa Takut?

"Jauh berjalan banyak yang dilihat, lama hidup banyak dirasa."

Semua manusia akan menjadi tua, oleh karena itu berbahagialah orang-orang yang dikaruniai umur panjang sebab Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk menyaksikan dan menikmati banyak peristiwa.

Penuaan adalah proses alamiah yang pasti dialami oleh setiap orang. Menjadi tua tidak selalu berkonotasi dengan panti wreda.

Ketika faktor-faktor pembatas berupa usia, kesehatan, kesempatan, dan kemampuan fisik muncul ke permukaan, seseorang bisa melayani Tuhan dengan begitu banyak ragam seperti menjadi tim doa, bergabung dengan kelompok PA, pembimbing atau pengajar, yang tidak banyak menggunakan tenaga fisik. Bahkan bisa melayani doa atau konseling melalui telepon.

Penutup
Hidup orang Kristen adalah sebuah perjalanan menuju "kampung halaman", yaitu surga.

Tetapi mengapa banyak orang takut mati?

Tuhan tidak memandang kematian sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sesuatu yang diharapkan dengan penuh sukacita. Kematian bukanlah suatu terowongan gelap gulita yang suram dan tanpa tujuan yang jelas.

Kematian berarti "tiba di rumah" setelah menjalani pengembaraan panjang. Tidak ada perasaan yang lebih lega selain akhirnya tiba di rumah dan berjumpa dengan Yesus.

Bahan diambil dan diedit dari:
Judul buletin: Kalam Hidup - Oktober 2005, Tahun ke-75, No. 714
Penulis : Elisa B.S.
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung 2005
Halaman : 37 -- 41


[ First ] [ Prev ] [ Next ] [ Last ]



|HOME| |ALKITAB| |Gereja Toraja TODAY| |FORUM P.A.| |BERBUAH| |SEKOLAH ALKITAB| |INJIL dan MELAYU| |God's Word in CHINA| |DOWNLOAD Bible | |PPGT| |Download Info Gerejawi| |NEXT Generation| |Renungan Harian| |Kumpulan TULISAN| |Majalah SULO| |MENU ARTIKEL | |SSAXXII| |3 - 8 July 2006| |26 Keputusan SSAXXII| |BLOG SSAXXII| |FOTO2 SSAXXII| |Download SSA22 Doc.| |FORUM| |BUKU TAMU | |Kampoeng TORAJA| |GEREJA TORAJA TODAY| |PEKAN SPIRITUALITAS | |Yahoo YM|