|
|
|
|
Kesan Singkat Pekan Spiritualitas Gereja Toraja
|
| |
Pekan Spiritual Gereja Toraja diawali dengan Karnaval keliling kota Rantepao yang dengan semangat dan diikuti kontingen-kontingen Kebaktian Anak dan Remaja membawa panji2 ” Aku Cinta Yesus” dll dan Marching Band melantunkan kidung2 rohani Hari Sabtu Siang 23 Juni 2007.
Di Gereja Rantepao Sabtu pagi sehari sebelum KPI sudah dipadati umat, sorenya sudah mulai memuji Tuhan dengan lagu-lagu Oiukumene dan Kidung2 Rohani yang banyak dilagukan di Meko padahal KPI baru akan dimulai besoknya, dikabarkan malam itu sudah ada umat yang sembuh dari penyakit fisik. Hari itu juga semua hotel-hotel dan penginapan di Makale dan Rantepao yang sudah lama sepi menjadi full booked. Bus-bus dari Makassar juga penuh sampai hari Minggu.
Sekitar Jam 8 malam tim KKR dari Tentena memasuki kota Rantepao setelah melihat ribuan umat yang memuji Tuhan Pdt Damanik turun dari mobil menyapa umat dan memberitakan Puji Tuhan “ Dokter Kecil” Selvin , Pengkhotbah cilik Moko besok akan tampil di ibadah pembukaan. Setelah kembali dari Rumah Jabatan Bupati Mobil yang ditumpangi Selvin seorang anak kecil yang dikaruniai Tuhan Talenta untuk menyembuhkan malam itu keliling kota Rantepao bahkan diikuti oleh beberapa orang, dan memilih menginap di rumah temannya di salah satu sudut kota Rantepao.
Minggu pagi 24 Juni 2007 Ibadah Hari Minggu Jam 9 dipimpin Pdt Damanik di panggung yang langsung diikuti puluhan ribu umat dan juga siaran live ke rumah-rumah via cable TV .Semakin siang Lokasi semakin dipadati umat parkiran sudah sampai hotel missiliana dari pusat kota , KKR sebelumnya hanya diikuti masyarakat Toraja yang kemarin diikuti umat dari Luwu’ , Makassar, dan Kabupaten2 lain di Sul-sel , Sulawesi Barat, Jakarta, Batam, Surabaya, Kalimantan dari semua kampung di Toraja seperti Mappa’ BuaKayu, Baruppu, Kurra dll dari semua etnis, denominasi gereja, golongan masyarakat berkumpul memuji, memuliakan dan membesarkan nama Tuhan saja. Diperkirakan yang hadir Lebih dari 100.000 umat.
Rombongan Selvin jam 2 siang dengan susah payah masuk ke Gereja walaupun sudah dipagar betis aparat dan panitia, Moko siang itu tampil dengan penuh percaya diri selain menghapal ayat Firman Tuhan juga memberikan ilustrasi kepada bapak-bapak coba dibayangkan bagaimana rasanya kalau yang ada dibumi ini semuanya laki-laki? Jawab Moko “ pasti akan merana” atau semua warna adalah warna hitam yang ada cuma hantu, Tema Khotbahnya “Memahami Arti Perbedaan”, sementara berkhotbah Moko mengajak menyanyikan lagu “ Tidak Pandang dari Greja Mana, “ serta lagu yang sesuai khotbahnya Pembacaaannya diambil dari 1 Kor 1 10- 17, I Kor 3 : 1-9, Maleakhi 3 : 1, Luk 19 41-42 menekankan 3 point :
1.Pertumbuhan Iman agar semua menjadi satu 2.Damai dengan Sesama 3.Jangan mempersoalkan perbedaan, seperti Perbedaan Baptisan, cara menyanyi/tepuk tangan, berdoa.
Ia juga menasihati Para Pemimpin umat/ Pendeta termasuk Moko untuk Seia sekata sehati sepikir dalam Kasih Tuhan.
Selvin siang itu mengenakan kaos hitam celana panjang jeans berkalung Salib, bando warna hitam, sepatu putih dengan wajah yang riang tanpa beban selalu tersenyum manis terus menyanyi mengikuti Pujian dan terlihat sesekali berdoa, Ia juga dipersilahkahkan berdiri melambaikan tangan dan memimpin doa Bapa kami bertiga dengan Moko dan Pdt Pdt Boba ( Panggilan akrab Pdt Damanik oleh Moko yang artinya Pdt Botak) Selvin mengatakan bahwa ia ke Toraja untuk beribadah, Ia baru pertama kali tampil di KPI dihadapan begitu banyak umat dan live via Cable TV. Walaupun hujan sempat turun tapi tidak menyurutkan antusiasme umat terus memuji Tuhan Yesus.
Malamnya Pdt Damanik kembali memimpin pujian dan bersaksi mengobati kerinduan umat yang begitu rindu menyegarkan imannya dan ingin dipulihkan. Beliau juga mengajak Ibu Filma dari GBI untuk bersaksi tentang kesatuan Gereja. Ribuan umat tidak bergerak dari tempatnya walau hujan bahkan tambah semangat mengangkat tangan dan bertepuk tangan karena Pdt Damanik juga basah kuyup berdiri didepan panggung memimpin Pujian “Soraklah Haleluya “, “ Syalom- Syalom” dll bertepuk tangan sambil melompat-lompat sampai pkl 23.30.Dan umat yang jauh dari pelosok dan yang sakit menginap kembali di Gedung Gereja, Gedung Pemuda, pelataran Kantor Sinode sampai tenda-tenda
Malam itu Doa dipimpin Ibu Pdt Dr Ery Hutabarat Lebang dan ditutup berkat oleh Bpk Pdt Daud Sangka’ Palisungan dan diamini lagu “ Aku Memuji KebesaranMU” Memang Tuhan sungguh besar mengatur sendiri acaraNya yang walaupun umat berdesekan, jalan-jalan macet sampai malam secara keseluruhan KPI benar-benar menyatakan pekerjaan Roh Kudus sehingga semuanya berjalan aman dan damai.
Pagi tgl 25 Juni 2007 di Makale Juga Karnaval anak yang berjalan sangat rapi anak2 membawa kertas2 yang menggambarkan iman mereka seperti ”KasihNya mengalir seperti sungai” Karnaval juga diikuti Moko dan sempat berkhotbah di sekitar kolam dari atas mobil pickup dihadapan anak sekolah minggu dan remaja.
Sementara KPI di terminal Makale diikuti juga puluhan ribu umat yang oleh Kuasa Tuhan memberikan cuaca cerah, siang hari sudah banyak Mujizat yang dinyatakan Tuhan Yesus melalui kesembuhan umat yang stroke, lumpuh, dll. Sekitar pkl 3.30 Tim KPI dari Tentena masuk ke terminal, Selvin diperkenalkan sambil melambaikan tangan, dan juga sempat mengatakan“ saya kelas 3 SD, Syalom “, sedangkan Moko memperkenalkan nama lengkapnya Adlan = Aman dalam lindungan Tuhan dari salah satu ayat di Mazmur( sy lupa ayatnya), Christoper= Kristus tempat perlindungan khususnya waktu dalam pengungsian!, kemudian disambung status saya ” bujangan“ yang disambut tawa umat .
Sementara Pdt Damanik memimpin Pujian , Selvin berbisik untuk mengingatkan umat bertobat,ia juga terus berdoa, setelah Moko berkhotbah Puji-Pujian seperti Mampirlah dengar Doaku, Bilur-Bilurnya, Maranatha, Allah Kuasa semakin dikumandangan dengan sungguh kepada Tuhan Yesus dengan sepenuh iman, memohon ampun atas kesalahan2 dan Puji Tuhan di Terminal , di aula Pertanian yang lumpuh, yang stroke, yang kaku disembuhkan Tuhan Yesus , KPI berlangsung sampai jam 10 malam. Agenda Pekan Spiritual selanjutnya hari ini mulai Pengobatan ke Desa-desa, Pembagian kitab Suci, KPI , Pelatihan Baca Gali Alkitab, pengembangan karakter Pemuda & Wirausaha, RetRet Pasutri, Konser White Dove, Semoga Hanya Tuhan Yang dimuliakan dan Iman spiritual semakin dibarui seperti Temanya : ” Menikmati Kasih Allah yang Membarui”
Yaya’Rundupadang
|
|
|
|
|
|
|
|
Google SEARCH ENGINE dalam Bahasa INDONESIA, khusus untuk Artikel GEREJAWI
|
|
|
KKR di Lapangan Bakti Rantepao PEKAN SPIRITUALITAS GEREJA TORAJA Tgl: 30 JUNI, 2007
Dengan Rock Christian Band "WHITE DOVE"
BORN AGAIN TORAJA TOUR
Bersama kita MEMUJI TUHAN
Bersama kita memerangi NARKOBA, FREE SEX dan Musuh Pemuda lainnya.
|
|
|
"BORN AGAIN" - "LAHIR KEMBALI" YOH.3:3
Apa Makna dari BORN AGAIN TORAJA TOUR atau apa artinya "Menjadi orang Kristen yang Lahir Kembali?"
Pertanyaan: "Apa artinya menjadi orang Kristen yang lahir kembali?"
Jawaban: Apa artinya menjadi orang Kristen yang lahir kembali? Bagian Alkitab yang sering dipakai untuk menjawab pertanyaan ini adalah Yohanes 3:1-21. Tuhan Yesus Kristus sementara berbicara dengan Nikodemus, orang Parisi yang ternama, dan anggota Sanhedrin (penguasa orang Yahudi). Nikodemus datang kepada Yesus pada malam hari. Nikodemus memiliki pertanyaan yang mau ditanyakan kepada Yesus.
Sementara Yesus berbicara dengan Nikodemus, Dia berkata, “…Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah." Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. (Yohanes 3:3-7).
Kata “dilahirkan kembali” secara harafiah berarti “lahir dari atas.” Nikodemus memiliki kebutuhan yang nyata. Dia memerlukan perubahan hati, suatu transformasi rohani. Lahir baru, lahir kembali, adalah tindakan Allah yang memungkinkan untuk hidup kekal diberikan kepada orang yang percaya (2 Korintus 5:17; 1 Petrus 1:3; 1 Yohanes 2:29; 3:9; 5:1-4, 18). Yohanes 1:12, 13 mengindikasikan bahwa “lahir kembali” juga berarti “menjadi anak-anak Allah” melalui percaya dalam nama Yesus Kristus.
Secara logika muncul pertanyaan, “Mengapa seseorang perlu dilahirkan kembali?” Rasul Paulus dalam Efesus 2:1 mengatakan, “Kamu dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosamu. Kepada orang-orang Roma, dalam Roma 3:23, sang Rasul menuliskan, “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Jadi, orang perlu dilahirkan kembali supaya dosa-dosa mereka diampuni dan agar dapat berhubungan dengan Allah.
Bagaimana hal itu dapat terjadi? Efesus 2:8,9 menjelaskan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:8-9). Ketika orang “diselamatkan,” dia dilahirkan kembali, diperbaharui secara rohani, dan sekarang orang itu menjadi anak Allah karena dilahirkan kembali. Percaya kepada Yesus Kristus, Dia yang telah membayar hukuman dosa ketika Dia mati di kayu salib, adalah arti dari “lahir kembali” secara rohani. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru …” (2 Korintus 5:17a)
Jikalau Anda belum pernah percaya kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda, maukah Anda menerima gerakan Roh Kudus yang berbicara dalam hati Anda? Anda perlu dilahirkan kembali. Maukah Anda mengucapkan doa penyesalan dan menjadi ciptaan baru di dalam Kristus hari ini? “Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah” (Yohanes 1:12-13).
Jikalau Anda bersedia menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat Anda dan dilahirkan kembali, di sini ada sebuah contoh doa. Ingat, sekedar mengucapkan doa ini atau doa-doa lainnya tidak akan menyelamatkan Anda. Hanya dengan percaya kepada Kristus yang dapat menyelamatkan Anda dari dosa-dosa Anda.
Doa ini hanyalah sebuah cara untuk mengungkapkan iman Anda kepada Tuhan dan untuk berterima kasih kepadaNya untuk keselamatan yang Dia telah sediakan untuk Anda.
“Tuhan, saya tahu saya telah berdosa terhadap Engkau dan saya pantas dihukum. Namun Yesus Kristus telah menanggung hukuman yang sepantasnya saya tanggung sehingga dengan beriman kepadaNya saya dapat diampuni. Saya bertobat dari dosa-dosa saya dan percaya kepadaMu untuk menerima keselamatan. Terima kasih untuk anugerah dan pengampunanMu yang ajaib, karunia hidup kekal! Amin!
|
|
|
KKR di Tagari Rantepao
Di Toraja saat ini lagi pada semangat untuk memuji Tuhan lewat KKR2 atau sekedar bernynyi bersama memuji Tuhan melalui lagu2 seperti di Meko dan lagu2 oiukumene.
Hari Senin sore 11 Juni saya dapat sms dari kawan kalau di Tagari Rantepao ada anak SMA yang bisa menyembuhkan. Sekitar jam 6 sore kami kesana lokasinya di daerah Tagari sekitar sekitar 1 km dari pusat kota Rantepao yang bisa dijangkau lewat Jembatan Tagari atau dari Malangngo’, Lokasi tepatnya sekitar 300 meter di depan SMEA (SMK) Negeri Rantepao. Sampai disana Polisi sudah mengatur lalu lintas dan tidak meingizinkan kendaraan sampai ke Lokasi, dari kejauhan sudah terdengar Pujian2 Penyembahan seperti di Meko. Di Lokasi sudah terpasang 3 tenda kotak/ terowongan dan dipadati orang2 yang nonstop menyanyi.
Kejadian ini menurut informasi dimulai dari seorang anak perempuan siswi SMU 2 Rantepao bernama Wanda yang sepulang melihat Penampakan salib dari Gereja Katolik di Tikala sempat pingsan dan mendapat penglihatan untuk menyembuhkan dirinya yang sering sakit dan mendamaikan kedua orang tua serta menyembuhkan sesama.
Kemudian Hari Minggu malam 12 Juni ada beberapa tetangga yang sakit dan kemudian didoakan dalam nama Tuhan Yesus sambil terus menyanyikan lagu2 penyembahan Meko ada yang mengalami kesembuhan baik yang bisu , penyakit dalam dll
Hari Senin Malam itu diadakan kebaktian yang diikuti kurang lebih 1000 orang dipimpin salah seorang anggota keluarga karyawan Danamon bernama Erna Latief Bulo yang didahului Doa Bapa Kami dan pembacaannya dari 1 Kor 7 setelah renungan singkat kemudian diakhiri Doa Bapa Kami lagi.
Setelah kebaktian salah seorang anggota keluarga Papa’ Nita Sirompo memberi pengumuman kalau disini hanya Kebaktian Kebangunan Rohani dan bukan penyembuhan kalaupun ada kesembuhan itu hanya Kuasa Tuhan semata dan mempersilahkan orang untuk datang terus beribadah memuji Tuhan. Pihak keluarga sendiri masih terus berdoa dan bergumul akan kejadian yang dialami Wanda.
(EDIT)Wanda tinggal di rumah kelurganya di Tagari yang Kristen.Tetapi Ibunya Wanda malam itu juga memimpin Puji2an. Sudah 2 malam ini disekitar rumah kel Wanda yang sekalian bengkel dan pendaftaran bus Sumber Alam itu dilaksanakan KKR dan Puji2an dan juga khotbah dari Wanda.
Saya sempat berbincang dengan Papa’ Apping seorang anggota Jemaat Katolik yang sudah lama sakit maaq parah dan susah untuk berjalan karena biasanya langsung keringat dingin dan kunang2. Hari Minggu 12 Juni datang dijemput pake Mobil dibawa ke Tagari untuk disembuhkan karena tidak kuat Jalan setelah Didoakan dengan sungguh kepada Tuhan Yesus dan juga melalui Doa Bapa Kami sambil memuji Tuhan dengan lagu”Allah Kuasa” dan ” Bilur- BilurNya” tak lama kemudian sudah merasa ringan dan pulangnya sudah jalan kaki sendiri serta Hari Senin itu kami lama berdiri bersama memuji Tuhan.
Saat ini banyak pendapat dan persepsi yang berbeda dari masyarakat , akan tetapi saya ingat ayat dari Filipi 1 : 18, 19 1:18 Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita, 1:19 karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”
Berikut saya Copykan obrolan saya via chat YM dengan Bpk Acis tadi pagi tentang hal-hal seperti ini
Francois P Tomasoa: Kita sebaiknya JANGAN TERPANA hanya dengan KESEMBUHAN ITU dan kalu sudah tidak ada kesembuhan lantas NILAI SPIRITUALISME nya hilang...jangan
Francois P Tomasoa: seharusnya kita bersyukur..MELALUI BEBERAPA KESEMBUHAN begitu banyak mata yang buta dapat melihat lagi..melihat Firman Allah yang hidup
Yaya' Rundupadang: kemarin di Tagari kami kebaktian
Francois P Tomasoa: Juga melalui MEKO ada SATU BAHASA..bahasa CINTA kerinduan beribadah bersama
Yaya' Rundupadang: benar.. apalagi disini sekarang gereja2 di kampung sudah penuh2 terus Yaya' Rundupadang: malah ditambah jam kebaktiannya Yaya' Rundupadang: semoga yang lebih dipulihan kehidupan rohani atau spiritualitas kita semua.
Salama’ na Puang Matua mo ra Tontong UmPassake ki’ sia tontong Urrondongki’ lan mintu’ Allo Katuoanta
Yaya’ Rundupadang
|
|
|
|
FENOMENA MEKO (FM) PERLU DITINDAKLANJUTI UNTUK MENGANTISIPASI KEBINGUNGAN WARGA
1. Dari berita dan informasi, langsung atau tdiak langsung, mengenai FM kita bisa menarik kesimpulan sementara, bahwa ada tiga cara menyikapi FM Sikap pertama ialah yang menerima sepenuhnya FM sebagai lawatan Allah merespons pertobatan orang-orang percaya dengan penyembuhan ilahi dan pemulihan iman yang untuk mudahnya kita sebut “mujizat”. Kelompok kedua terdiri dari orang-orang percaya yang masih sinis terhadap apa yang terjadi di Meko, bahkan yang menyebut FM sebagai lawatan Iblis. Sedangkan kelompok ketiga adalah mereka yang percaya sepenuhnya akan kuasa dan kasih Allah yang bisa mempergunakan siapa saja, di mana saja dan kapan saja untuk menyembuhkan dan memulihkan, namun tidak semua penyembuhan adalah penyembuhan ilahi, sebab memang Iblis sekalipun mampu berbuat mujizat. Oleh sebab itu kita perlu menguji segala sesuatu dan memegang yang baik (1Tes.5:22). Kriteria untuk menguji ialah firman Allah dengan tuntunan Pengakuan Gereja Toraja, seperti yang telah dilakukan oleh BPS Gereja Toraja dalam Suara Penggembalaan-nya.
2. Sikap yang manakah yang harus kita kembangkan? Ada baiknya kita memperhatikan dan pedomani apa yang dikembangkan oleh Bapak Simatupang sejak tahun 80-an tentang sikap yang positif, tetapi kritis, kreatif, tetapi realistis. Kita menerima FM secara positif. Karena kita bersikap positif, maka kita boleh mengembangkan FM secara kreatif, tetapi janganlah kita tidak realistis lalu kebablasan. Sebab itu kita perlu kritis.
3. Berulang kali ditegaskan bahwa orang tidak pergi ke Meko untuk pengobatan, tetapi untuk pertobatan. Pertobatan adalah syarat untuk memulihkan hubungan dengan Tuhan dan sesama manusia. Inti ibadah di Meko ialah penyembahan memuliakan Tuhan dengan bernyanyi tak henti-hentinya. Ibadah adalah dialog dengan Tuhan. Umat menyembah, memuji dan Tuhan meresponsnya di Meko dengan kesembuhan dan pemulihan relasi yang membuahkan rekonsiliasi. Semuanya itu kita patut syukuri. Namun apakah hanya ibadah model itu yang diperkenankan Tuhan? Jelas tidak, itu hanya salah satu cara berkomunikasi dengan Tuhan Betul bahwa hanya satu doa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita, tetapi apakah kita sudah memahami doa “Bapa kami” dengan benar dan sungguh-sungguh? Memang doa “Bapa kami” sangat sederhana, namun ia memerlukan pejelasan dan pemahaman yang benar. Mengapa kita boleh atau bisa menyebut Tuhan Allah, Bapa kita? Masih perlu dipertanyakan apakah warga jemaat sungguh-sungguh menghayati doa “Bapa kami” jika diucapkan bersama-sama di dalam ibadah? Apakah pengucapan doa “Bapa kami” tidak hanya merupakan ritual belaka? Apalagi jika ia diucapkan seolah kita dikejar-kejar? Kalau hanya doa “Bapa kami” yang boleh diucapkan di Meko, dengan alasan karena hanya itu yang diajarkan Tuhan Yesus, maka kita cenderung menjadikan doa itu sebagai mantera sakti, asal itu sudah diucapkan, maka pasti sudah beres. Doa adalah alat komunikasi dengan Tuhan dan kita bisa berkomunikasi dengan Tuhan kapan saja, di mana saja, dalam keadaan apa saja. Tuhan Yesus sendiri berdoa dalam keadaan gawat, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat.26:39). Doa ini tidak diajarkan-Nya kepada kita, tetapi kita justru harus belajar berdoa seperti itu. Masih banyak doa-doa lain yang bisa kita pelajari dan lakukan, misalnya Yoh.17. Apakah doa-doa rasul Paulus tidak bisa diteladani? Doa “Bapa kami” bisa diucapkan komat-kamit, bisa dinyanyikan dengan macam-macam ragam, bisa diucapkan bersama, bisa juga secara pribadi. Doa sebagai komunikasi dengan Tuhan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Di Meko komunikasi dengan Tuhan itu agaknya baru satu arah, yaitu penyembahan dan pemuliaan. Bagaimanakah Gereja Toraja harus berkomunkasi dengan Tuhannya? Cara berkomunikasi itu sudah digariskan dalam tata ibadah (liturgi), bahkan bukan hanya satu cara, melainkan lima. Di luar itu masih banyak cara beribadah, berkomunikasi dengan Tuhan.
4. Doa adalah sarana komunikasi antara manusia percaya dengan Tuhannya, baik secara individual, mapun kolektif (umat). Tetapi berkomunikasi dengan Tuhan bukan hanya melalui doa, melainkan ada bermacam cara bagaimana kita bergaul dengan Tuhan. Cara berkomunikasi itu juga ditentukan oleh emosi dan yang sangat penting oleh kebudayaan. Pernah seorang kawan yang bukan anggota Gereja Toraja berkata kepada saya: “Ada warga (Gereja Toraja) dan bahkan pendeta yang berpangku kaki kalau ia berdoa. Apakah itu suatu sikap yang sopan? Sedangkan menghadap atasan seseorang pasti tidak akan berpangku kaki, apalagi dalam doa kita berkomunikasi dengan Tuhan”. Hal ini tentu berhubungan erat dengan kebudayaan, sama halnya dengan berlututk bersungkur, lipat tangan, berdiri mengangkat tangan ke atas, dsb. Mungkin hal inilah yang mau dikatakan oleh Bapak Theo Matasak dalam emailnya tanggal 8 Juni 2007 mengenai liturgi, bahwa beliau termasuk orang kuno yang sulit dan merasa kaku bertepuk tangan atau mengangkat tangan sambil menyanyi di dalam ibadah. Jelas hal ini adalah pengaruh kebudayaan, yang membentuk manusia dalam berpikir, bertindak, bersikap, dsb. Apakah liturgi Meko bisa dikawinkan dengan liturgi Gereja Toraja? Mengapa tidak, tetapi kita harus memikirkan konsekuensinya. Perkawinan itu bisa mesra, bisa juga kacau, contohnya bisa dilihat di Korintus (1Kor.14). Situasi jemaat Korintus menyebabkan Paulus berkata bahwa segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur (ayat 40). 5. Dialog di Meko antara Tuhan dan umat-Nya boleh dikatakan, bahwa didominasi oleh satu arah, yaitu arah umat yang menyembah dan memuliakan Tuhannya. Memang Tuhan menjawab melalui penyembuhan dan pemuliahan relasi. Itu tentu kita syukuri. Tetapi tradisi gereja-gereja reformasi, termasuk Gereja Toraja, menempatkan pelayanan firman Allah itu sangat sentral, bahkan semboyan reformasi ialah “Sola Scriptura”, hanya melalui Alkitab, firman Allah, kita bisa menjalin hubungan yang benar dengan Tuhan. Tidak percuma doa epiklese (untuk pembacaan Alkitab), biasanya diakhiri dengan “berfirmanlah, ya Allah, umat-Mu siap mendengarkan”. Tuhan berfirman melalui pembacaan pelayanan firman, melalui hukum Taurat (hukum kasih), melalui pengampunan dosa dan mungkin masih ada cara yang lain, sedangkan umat memberi respons dengan pengakuan imannya, dengan puji-pujian, dll. Misalnya Daud menari-nari di depan tabut Allah, yang menyebabkan Mikhal, isterinya, memandang rendah Daud di dalam hatinya (2Sam.6:16-23). Pasti hal itu ada hubungannya dengan kebudayaan, tidaklah pantas seorang raja meloncat-loncat dan menari-nari di depan Tuhan sekalipun.
6. Beriman berarti berelasi dengan Tuhan, relasi itu terjalin di dalam dialog, dialog terjadi dalam bentuk-bentuk yang berhubungan dengan kebudayaan. Agak aneh jika kita berdoa: “Kami datang tersungkur atau bertelut di hadirat-Mu ya Tuhan”, tetapi kita duduk berpangku kaki di kursi, atau berlipat tangan, dll. Sering rumus-rumus doa kita merupakan klise tanpa arti, atau tanpa penghayatan. Bentuk ibadah (liturgi) yang sangat menyentuh hati di suatu tempat belum pasti bahwa di tempat lain ia berfungsi dengan baik. Jadi bagaimanakah kita menjawab pertanyaan Bapak Theo Matasak, apakah liturgi Meko bisa dikawinkan dengan liturgi Gergeja Toraja? Di atas sudah saya katakan bahwa tentu itu bisa saja, namun kita harus memikirkan konsekuensinya. Warga jemaat yang satu, seperti Bapak Matasak atau saya mungkin tidak terlalu menikmati tepuk tangan, dsb., tetapi ada warga yang sangat bersemamngat dan menemukan sentuhan hati dengan bertepuk tangan. Bagi saya orang di samping kiri-kanan saya boleh saja bertepuk tangan, sedangkan saya seperti biasa saja. Paling saya mungkin bisa agak terganggu, tetapi dengan demikian kita tidak boleh saling menilai, apalagi menghakimi. Jika saya berdoa, lalu orang di dekat saya brisik merespons doa saya dengan bunyi-bunyian yang saya tidak mengerti, maka saya sangat terganggu. Contoh banyak, tetapi saya tidak boleh menyebutnya. Bahgwa saya tidak boleh (tidak berani) menegur orang itu, mungkin pula ada hubungannya dengan kebudayaan dan sopan santun. Jadi banyak hal yang harus dipikirkan dan diperhatikan untuk mengambil suatu keputusan yang berlaku untuk seluruh umat. Iman memang relasi dengan Tuhan secara pribadi, tetapi hubungan pribadi itu dengan Tuhan justru membuat kita berhubungan satu sama lain di dalam satu tubuh, tubuh Kristus, jaitu jemaat.
7. FM mengatakan kepada kita bahwa di kalangan warga memang ada kerinduan besar untuk mencari dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Bahwa konon puluhan ribu anggota Gereja Toraja pergi ke Meko dan kemudian mengadakan ibadah syukur di Rantepao yang dihadiri k.l. 50.000 orang, peristiwa itu seharusnya membuat kita bangun dari tidur serta menyadari bahwa ada sesuatu yang dirindukan oleh umat, yang belum mampu dilayankan oleh gereja. Inilah PR yang harus menjadi prioritas Gereja Toraja dan Institut Teologi Gereja Toraja hendaknya menjadi pandu dalam penemuan spiritual yang didambakan.
8. Perkenankanlah saya memberikan beberapa catatan tentang liturgi. Pertama-tama kita harus sadari bahwa ibadah adalah jalur relasional dengan Tuhan. Kita berelasi dengan Tuhan secara pribadi, bagaimana menyelenggarakan relasi pribadi itu, terserah kepada pribadi masing-masing. Kemudian berelasi dengan Tuhan otomatis bermuara ke dalam relasi dengan sesama. Di dalam keluarga relasi dengan Tuhan itu agaknya belum terlalu sulit diatur dan menjadi kebiasaan keluarga. Yang lebih sulit adalah mengatur cara berelasi di dalam keluarga Allah, yaitu jemaat/gereja. Pengaturan itu dihasilkan oleh kesepakatan bersama, d.h.i. melalui Sidang Sinode. Kesepakatan itu tentu mengikat kita seluruh warga Gereja Toraja. Kini kita mempunyai lima macam liturgi, yang tentu masih bisa dikembangkan secara dinamis-kreatif. Tetapi prinsip yang mutlak kita harus pegang ialah bahwa pengembangan liturgi itu harus tunduk kepada firman Allah di bawah tuntunan Pengakuan Gereja Toraja. Unsur budaya jemaat/gereja juga tidak boleh dilupakan. Kedua, FM memberikan pesan, bahwa ada kerinduan spiritual warga gereja yang meminta perhatian. Kerinduan itu tidak boleh disia-siakan. Justru ia harus ditampung dan diberikan saluran yang baik. Saran saya adalah sebagai berikut: Biarlah liturgi yang ada sekarang ini tetap diberlakukan sampai ada kesepakatan baru melalui sinode. Kita tetap berpegang kepada liturgi sebagai alat komunikasi dalam berelasi dengan Tuhan. Komunikasi itu berlangsung dalam bentuk dialog, Allah berfirman, umat mendengar dan melakukan apa yang difirmankan Allah. Respons manusia bisa dalam berbagai bentuk yang berhubungan dengan kebudayaan. Urut-urutan (akta) dalam liturgi tentu sudah dipikirkan secara teologis/dogmatis, tetapi bahwa ada lima macam liturgi, itu sudah menandakan bahwa urut-urutan itu tidak mutlak. Yang mutlak ialah ketaatan kepada firman Allah di bawah tuntunan Pengakuan Gereja Toraja. Saya bisa memahami, bahwa warga yang sudah mengalami ibadah Meko dan mungkin pula ibadah-ibadah lain di luar Gereja Toraja, merindukan yang semacamnya di dalam Gereja Toraja. Saya mau menyarankan agar bagi mereka itu dibukakan kesempatan untuk menyalurkan kerinduan mereka. Tetapi semuanya harus berada di bawah tanggungjawab Majelis Gereja setempat. Kehidupan berjemaat berlangsung di jemaat dan bukan di BPS atau badan-badan gerejawi lainnya. BPS dan badan-badan terkait hanyalah merupakan fasilitator untuk pengembangan dan pembinaan jemaat. Tidak ada salahnya jemaat mengadakan ibadah a la Meko, kalau itu dibutuhkan sekali seminggu atau sekali sebulan pada hari bukan hari Minggu. Mungkinkah kebaktiaan rumah tangga dimodifikasi menurut model Meko? Apa yang disebut Bapak Matasak perkawinan antara ibadah Meko dengan ibadah Gereja Toraja bisa terjadi di sini.Usul modifikasi kebaktian rumah tangga, yang
tidak lain adalah pemindahan mimbar gereja ke dalam
rumah tangga, hanya kebaktiannya itu lebih singkat, tetapi tentu harus dengan persetujuan minimal keluarga yang bersangkutan. Kalau kesempatan itu diberikan, maka hal itu sekaligus juga merupakan batu ujian untuk membuktikan kesetiaan kita menyembah dan memauliakan Allah. Ibadah a la Meko hendaknya memberikan juga tempat bagi Allah untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat-Nya yang rindu mengalami kehadiran Allah di dalam kehidupan mereka. Selama Gereja Toraja masih tergolong gereja reformasi, maka pelayanan firman Allah masih sentral, walaupun akta-akta liturgis lainnya sama pentingnya dan merupakan satu kesatuan. 9. Akhir kata: Marilah kita melihat FM dan mungkin fenomena-fenomena lainnya sebagai isyarat dari Tuhan, bahwa Tuhan masih tetap peduli akan umat-Nya, bahkan akan seluruh umat manusia. Allah memang berkuasa melakukan segala perkara. Mampukah kita melihat perbuatan Allah itu? Kalau kita mampu, lakukanlah itu dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya.
Jakarta, 13.06.07 Th.Kobong
|
|
|
|
SURAT KEPUTUSAN BADAN PEKERJA SINODE GEREJA TORAJA Nomor : 1261/BPS-GT/2007 TENTANG PENETAPAN PANITIA PELAKSANA PEKAN SPIRITUALITAS GEREJA TORAJA TAHUN 2007;
BADAN PEKERJA SINODE GEREJA TORAJA
Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka upaya pengembangan kehidupan spiritual warga gereja, dipandang perlu untuk membentuk panitia pelaksana b. bahwa untuk maksud tersebut di atas, Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja perlu mengeluarkan Surat Keputusan Penetapan Panitia Pelaksana Pekan Spiritualitas Gereja Toraja Tahun 2007.
Mengingat : 1. Pengakuan Gereja Toraja 2. Tata Gereja Toraja Pasal 23 tentang Pelayanan Gerejawi dan 24 tentang Ibadah Jemaat. 3. Keputusan-keputusan SSA XXII Gereja Toraja No.14, No.16, dan No.19. Memperhatikan : 1. Program Kerja Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja 2006-2011 2. Keputusan Rapat BPS Gereja Toraja tanggal 31 Januari s.d. 1 Februari 2007.
MEMUTUSKAN: Menetapkan : Keputusan Penetapan Panitia Pelaksana Pekan Spiritualitas Gereja Toraja Tahun 2007 P e r t a m a : Panitia Pelaksana Pekan Spiritualitas Gereja Toraja Tahun 2007 dengan personalia sebagaimana terlampir. Personalia masih bisa ditambahi atau dilengkapi sesuai kebutuhan. K e d u a : Panitia Pelaksana Pekan Spiritualitas Gereja Toraja menyelenggarakan kegiatan dengan nama Pekan Spiritualitas Gereja Toraja. K e t i g a : Panitia Pelaksana Pekan Spiritualitas Gereja Toraja bertanggung jawab kepada BPS Gereja Toraja. K e e m p a t : Keputusan ini mulai berlaku tanggal 15 Maret 2007 dan apabila terdapat kekeliruan di dalamnya akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.
Ditetapkan di : Rantepao Pada tanggal : 15 Maret 2007
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja Ketua Umum, Sekretaris Umum,
Pdt. Soleman Batti’ Pdt. I.Y. Panggalo
Surat Keputusan ini disampaikan kepada Yth.: 1. Majelis Pertimbangan Gereja Toraja 2. Badan Verifikasi Gereja Toraja 3. Bendahara Umum Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja 4. Masing-masing yang bersangkutan 5. Arsip
Lampiran 1 Keputusan
Nomor: 1261/BPS-GT/2007 TENTANG PENETAPAN PANITIA PELAKSANA PEKAN SPIRITUALITAS GEREJA TORAJA TAHUN 2007
PENANGGUNG JAWAB: BADAN PEKERJA SINODE GEREJA TORAJA
PANITIA PELAKSANA:
1. Ketua Umum : Jonathan L. Parapak 2. Wakil Ketua Umum : Pdt. Albatros Palilu 3. Ketua Bid. KPI : Pdt. J.K. Parantean, M.Th. 4. Ketua Bid. Pasutri : Pdt. Musa Salusu, M.Th. 5. Wakil Ketua Bidang Pasutri : Ny. Anne Parapak 6. Ketua Bid. Generasi Muda/Pendidikan: Pdt. Bernadus Randuk, S.Th. 7. Wakil Ketua Bid. Generasi Muda/Pendidikan: A.K. Sampe Asang, M.Pd. 8. Ketua Bidang Kesehatan : Dr. J. Palimbong 9. Wakil Ketua Bidang kesehatan : Dr. Bara’ Tambing 10. Sekretaris : Pdt. Suleman Allolinggi’ 11. Bendahara : Naomi Manguling-Todingallo 12. Anggota : Pdt. Ny. Henriette Hutabarat-Lebang 13. Anggota : Pdt. Yonan Tadius 14. Koordinator Sekretariat dan Publikasi: Markus Rani
Badan Pekerja Sinode Gereja Toraja
Ketua Umum, Sekretaris Umum,
Pdt. Soleman Batti’ Pdt. I.Y. Panggalo
Lampiran 2 Keputusan
Nomor: 1261/BPS-GT/2007 TENTANG PENETAPAN PANITIA PELAKSANA PEKAN SPIRITUALITAS GEREJA TORAJA TAHUN 2007
SUSUNAN KELENGKAPAN PANITIA PELAKSANA: ANGGOTA TIM DAN GARIS BESAR TUGAS TIM PELAKSANA PEKAN IMAN GEREJA TORAJA 2007
1. Tim Gerakan Cinta Alkitab
Ezra Tondok Pdt. Robertus Pakan Pdt. S.T. Toding Allo Pnt. Karel Tuppu Ny. Tuti Sangka’ Pnt. Manga’ Rumpa Frety Tandirerung
Tugas: 1. Menggalang partisipasi donatur untuk membantu menyukseskan Gerakan Cinta Alkitab (Kepemilikan minimal satu Alkitab untuk setiap keluarga) 2. Mengorganisir dan melaksanakan pengumpulan bantuan dan pembagian Alkitab di daerah pelayanan yang membutuhkan. 3. Melakukan koordinasi dengan Tim KPI dan Tim Pelayanan Kesehatan untuk Pelaksanaan pelayanan bersama ke beberapa daerah pedesaan
2. Tim Pelatihan BGA dan Penulisan Renungan MG Jemaat Elim
Tugas: 1. Mengundang dan Menghadirkan Peserta 2. Menata Acara dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan 3. Mengupayakan konsumsi peserta.
3. Tim Acara/Ibadah (Ibadah Pembukaan dan Penutupan, Karnaval)
Pdt.M. Samperitti Pdt. Tiku Rari Pdt. Titus Tuppang Pdt.Y. L. Sa’pangallo Pdt. Yonan Thadius Pdt. Bernadus Randuk Pnt. Ny. Budhanita Hartanto Pengarus Pusat KARGT Pdt. Masak Etung Abang Pnt. Sarlota Beso BPK Rantepao BPK Makale BPK Palopo MGTJ Palopo MGTJ Sion Makale MGT Jemaat Rantepao
Tugas: 1. Merancang, memersiapkan dan memimpin pelaksanaan acara pembukaan dan acara penutupan 2. Menyediakan liturgi dan memimpin ibadah pembuakaan dan penutupan 3. Menyediakan bahan PA/renungan dan liturgi untuk ibadah keluarga, kelompok dan atau kegiatan pribadi 4. Mengorganisir dan memersiapkan/melatih peserta pendukung kegiatan (Pemain musik, kantoria dan liturgos)
4. Tim Kebaktian Penyegaran Iman Pdt. Y.P. Polandos Pdt. Yahya Boong Pdt. Bernadus Randuk Pdt. Daniel Rori’ Pdt. Daud Sangka’ P. Pdt. Sulaiman Manguling Pdt. S. Tokam Kabanga’
Tugas: 1. Mengorganisasi dan memimpin pelaksanaan KPI, baik yang dilaksanakan secara terpusat di Rantepao dan Makale, maupun yang akan dilaksanakan secara terpadu dengan pelayanan kesehatan dan pembagian Alkitab di beberapa daerah pedesaan. 2. Menyediakan liturgi dan dan kumpulan lagu untuk KPI 3. Memersiapkan dan mengorganisasi pelaksana (Pemberita Firman, Kantoria dan pemain musik) 4. Mengorganisasi pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan (transportasi, alat musik, sound system, dll.) 5. Mendorong partisipasi Klasis dan jemaat-jemaat di daerah yang akan menjadi tempat kegiatan.
5. Tim Pelayanan Kesehatan
Dr. Anthony Tulak, Sp.P (Koord. Forum Kom. Dokter2 Toraja) Jhon Pali’, Sp. Ant. (Wk Koord. Forum Kom. Dokter2 Toraja) Dr. Bara’ Tambing (Jakarta) Dr. Ujuna Sampebulu’ (Bandung) Dr. Edy Tanggo’ (Surabaya) Dr. Daniel Sampepayung (Makassar) Dr. Randanan Bandaso’ (Makassar) Dr. Ardyn Hutasoit (Palu – Sulteng) Dr. Yulius Patandianan (Papua) Dr. Simon Biring (Kalimantan) Dr. Emaus Popang (Kalimantan) Yayasan Kesehatan Gereja Toraja (YKGT) Dr. Elen Tataming (Tana Toraja)
Tugas: 1. Menggalang partisipasi untuk pelaksanaan pengobatan gratis, antara lain melalui pengadaan obat-obtan 2. Menggalang dan mengorganisasi tenaga, baik Dokter, perawat maupun tenaga administrasi kesehatan yang siap menjadi relawan. 3. Melakukan koordinasi dan kerja sama dengan lembaga-lembaga pelayanan kesehatan baik swasta maupun negeri. 4. Mengusahakan tersedianya sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pelayanan kesehatan di desa.
6. Tim Pembinaan Keluarga (Retreat Pasutri dan Seminar)
Petrus Tiranda Yosef Rannu Sanderan Agustina Bura Binsalima Panggalo
Tugas: 1. Mempersiapkan sarana-prasarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan (a) Retreat Pasutri (b) Seminar Penyegaran Kehidupan Keluarga. 2. Mengundang dan menghadirkan Peserta (Pasangan Suami Istri) sebanyak 50-60 orang. 3. Mengundang dan menghadirkan Peserta untuk Seminar Penyegaran Kehidupan Keluarga. 4. Mengoordinasi pelaksanaan kedua Pelatihan dimaksud.
7. Tim Pameran dan Hiburan
Cornelius Patulak Senda Aleksander Mangoting Pnt. Dony Wijaya Pnt. Rede Roni Bare’ Pnt. Deice Kondorura Daneil Pasedan Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) Pengurus Pusat PPGT
Tugas: 1. Bertangungjawab, menata tempat pelaksanaan pameran dan panggung hiburan 2. Mengundang dan mengorganisir kehadiran peserta Pameran (PP.PWGT mengkordinir anak-anak dari RBM menampilkan hasil-hasil karyanya. PP.PPGT dan PP.KR-GT menghubungi SMK Kristen dan Lapas Makale untuk menampilkan karya-karya inovatif nya). 3. Menghadirkan dan mengatur peserta yang akan berpartisipasi untuk mengisi panggung hiburan. 4. Menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk acara panggung hiburan.
8. Tim Pemberdayaan Pemuda Pengurus Pusat PPGT Yayasan Perguruan Kristen Toraja (YPKT) Francois Tomasoa Pdt. Alfred H. Anggui
Tugas: 1. Mempersiapkan sarana-prasarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan (a) Training Pengembangan Kapasitas dan (b) Pembangunan Karakter dan Pelatihan Kewirausahaan. 2. Mengundang dan menghadirkan Pemuda sebanyak 50-60 orang pemuda untuk setiap kegiatan pelatihan. Khusus untuk pelatihan Kewirausahaan diperuntukkan bagi pemuda yang sudah siap dan atau telah memulai suatu bentuk kegiatan produktif/usaha. 3. Menghubungi dan meminta kesediaan Narasumber. 4. Mengoordinasi pelaksanaan kedua Pelatihan dimaksud.
9. Tim Pelatihan Pendidikan Perdamaian YPKT
Tugas: 1. Mempersiapkan sarana-prasarana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan Pelatihan Perdamaian 2. Mengundang dan menghadirkan 50-60 orang guru untuk menjadi peserta pelatihan. 3. Menghubungi dan meminta kesediaan Narasumber. 4. Memimpin pelaksanaan Pelatihan.
10. Tim Karnaval Pengurus Pusat KARGT
Tugas: 1. Menggalang partisipasi dari Klasis-klasis yang ada di sekitar wilayah Makale dan Rantepao untuk mengikutsertakan anak dan remaja dalam kegiatan Karnaval untuk acara pembukaan 2. Memimpin pelaksanaan Carnaval (berkoordinasi dengan Tim Acara/Ibadah)
11. Tim Pelayanan Media (Dialog Interaktif, TV Kabel dan Warung Selera)
Cornelius Patulak Senda Francois Tomasoa Sarah Sundai Parura Rudi Rantepasang Esther Pongdatu INFORKOM Gereja Toraja PWGT Jemaat Rantepao
Tugas: 1. Mengusahakan kerja sama dengan Stasion Radio Amatir dan pengusaha TV Kabel. 2. Mengatur jadwal, topik, dan mengadakan narasumber serta penyiar/pewawancara untuk dialog interaktif melalui Radio. 3. Mengatur jadwal, topik, dan mengadakan narasumber serta untuk mengisi acara di Warung Selera. 4. Mengatur penggunaan media TV Kabel yang memungkinkan 5. Menyediakan paket-paket informasi yang relevan.
12. Tim Aksi kebersihan Massal
Kepala Pemerintahan Kecamatan Rantepao Kepala Pemerintahan Kecamatan Makale BEM STAKN Toraja BEM UKI Toraja Dinas Kebersihan Kota
Tugas: 1. Diharapkan Dinas Kebersihan Kota menyediakan sarana-kebersihan seperti Mobil/Motor Sampah, dll. 2. Diharapkan Camat Makale dan BEM UKI Toraja mensosialisasikan dan menggerakkan masyarakat dan Mahasiswa di wilayah Makale dan sekitarnya untuk mengadakan aksi Pembersihan kota Makale. 3. Diharapkan Camat Rantepao dan BEM STAKN Toraja mensosialisasikan dan menggerakkan masyarakat dan Mahasiswa di wilayah Rantepaao dan sekitarnya untuk mengadakan aksi Pembersihan kota Rantepao.
13. Tim Aksi Penanaman Pohon
Ir. Harris Paridy Suleman Tanda Yayasan Tallulolona Pengurus Pusat PPGT Pengurus Pusat KAR-GT
Tugas: 1. Mengusahakan penyediaan bibit pohon/tanaman produksi, termasuk melalui kerjasama dengan instansi pemerintahan terkait. 2. Melakukan koordinasi dan kerjasama dengan lembaga yang memiliki kepedulian yang sama. 3. Mendistribusikan bibit dan bahan lain yang diperlukan. 4. Menggalang partisipasi warga jemaat dan warga masyarakat.
14. Tim Parade Paduan Suara dan Vocal Group 1. Pengurus Pusat PWGT 2. Pengurus Pusat PPGT
Tugas: 1. Mengusahakan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan 2. Mengusahakan untuk menghadirkan peserta 3. Mengatur dan memimpin pementasan.
15. Tim INFORKOM
Pengurus INFORKOM BPS GEREJA TORAJA Simon Sura’ (Kepala Inforkom PEMDA Tana Toraja) Rannu Sanderan Samuel Rianto Tappi’
Tugas: 1. Memanfaatkan berbagai bentuk media (cetak dan elektronik) untuk penyebaran informasi pelaksanaan kegiatan. 2. Membuat berbagai bentuk alternatif media komunikatif untuk sosialisasi
16. Tim Sekretariat
Binsalima Panggalo Aleksander Mangoting Yoel Sambokaraeng Matius Tonapa Ramba’ Yusniaty Puntu Maria Alla’ Rannu Sanderan Mariana Sulo Benyamin Bongi Alexander Lebang
Tugas: 1. Mengusahakan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kegiatan kesekretariatan. 2. Mengamankan dan mengelola informasi yang dapat mendukung kelancaran kegiatan/acara. 3. Menggandakan dan mendistribusi materi-materi yang terkait dengan beberapa kegiatan.
16. Tim Pemondokan dan Penerangan Majelis Gereja Jemaat Rantepao Pnt. Lewi Randan
Tugas: 1. Mengusahakan pengadaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk pemondokan dan penerangan (listrik) 2. Menata lokasi dan mengatur penggunaan pondok
BADAN PEKERJA SINODE GEREJA TORAJA
Ketua Umum, Sekretaris Umum,
Pdt. Soleman Batti’, M.Th. Pdt. I.Y. Panggalo, D.Th.
|
|
|
|